HIDUP SEHAT

hidup sehat adalah pilihan

Archive for July 2009

Khasiat terapi sengat lebah

with 2 comments


Disebutkan dalam Al quran surat An Nahl ayat 68-69, di dalam madu lebah terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Ayat tersebut menjabarkan pada manusia, lebah memiliki khasiat yang dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit.

Produk turunan yang dihasilkan lebah ada 13, di antaranya madu, propolis, royal jelly, pollen, bee venom, lilin lebah, madu sarang, roti lebah, larva lebah, dan phedra.

Pengobatan dengan menggunakan lebah biasa disebut Aphitherapy (apiterapi), yang berasal dari perpaduan bahasa Latin, aphis berarti lebah dan therapy, pengobatan.

Apiterapi didefinisikan sebagai upaya pengobatan komplementer untuk tujuan prefentif, kuratif, dan rehabilitasi menggunakan lebah dan produk turunannya.

Salah seorang terapis sengat lebah, Oman, mengatakan, penggunaan madu lebah untuk kesehatan telah diketahui sejak ribuan tahun lalu. Penggunaan sengat lebah untuk meringankan nyeri sendi dan artritis telah lama dilakukan oleh bangsa Yunani. Pelopornya adalah bapak kedokteran modern, Hippocrates.

Selain itu, Dr. Philip Tere dari Perancis pernah meneliti hubungan antara sengat lebah dan rematik. Sebelumnya, tahun 1864, Prof. Libowsky melaporkan kesembuhan pasiennya yang menderita rematik dan neuralgia setelah diterapi dengan sengatan lebah.

Pengobatan menggunakan sengat (bisa) lebah dikenal sebagai apipuntur. Apipuntur, kata Oman adalah bagian dari apiterapi. Apipuntur memanfaatkan bee venom dan metode akupuntur. Lebah untuk terapi ini jenis Apis mellifera dan Apis cerana. Apipuntur sendiri merupakan bagian dari apiterapi.

Sengat atau racun lebah sangat baik untuk menormalkan segala aktivitas pembuluh darah dan saraf.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengat lebah mengandung melitin, apamin, peptida 401 (MDC), inhibitor protease, dan norepinephrine,” kata terapis yang mendalami pengobatan sengat lebah sejak tahun 2000 itu.

Apiterapi secara umum dimanfaatkan untuk meredakan gangguan rematik, masuk angin, flu, salah urat, hingga penyakit berat, seperti darah tinggi, diabetes, dan kanker. Cara itu pun diklaim efektif untuk mengobati penyakit degeneratif, seperti stroke.

Seseorang yang mempunyai keluhan tidak semerta langsung diterapi. Oman memilki cara untuk mendeteksi penyakit yang diderita pasien. “Kalau ditekan ditempat yang menjadi sumber penyakit terasa sakit, di tempat itu dilalukan sengatan, jadi tidak sembarangan,” jelasnya.

Jumlah sengatan tergantung pada jenis penyakit. Namun, satu sengatan di titik-titik tertentu dianggap cukup sebagai perkenalan.

“Buat yang baru terapi biasanya diberi satu atau dua sengatan, kalau yang sudah biasa biasa sampi tujuh tapi tidak boleh lebih dari 10, kalau terlalu banyak bisa meriang meski daya tahan tubuh pasien kuat,” jelasnya.

Sengatan lebah yang sedang bereaksi di tubuh ditandai dengan ketidaknormalan sejenak yang sifatnya individual. Reaksi pasien berbeda-beda, apakah sebelumnya pernah disengat lebah atau tidak.

Biasanya pasien akan mengalami reaksi lokal dan sistemik. Ciri reaksi lokal adalah pembengkakan di sekitar lokasi sengatan, gejala klinisnya gatal, nyeri, dan kaku. Reaksi sistemik berupa demam, lemas, telinga berdengung, dan pusing.

Untuk menetralkan kondisi tersebut, dia menganjurkan konsumsi madu dan mengoleskan minyak gosok di bagian yang bengkak dan gatal. Karena itu, terapi sengat lebah akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan pemberian madu, propolis, pollen, atau royal jelly.

“Pasien yang pertama kali disengat dan daya tahan tubuhnya jelek biasanya suka meriang. Saya menganjurkan pasien untuk minum madu dan jangan mandi,” imbuh Oman.

Sumber : http://republika.co.id/berita/21976.html

Written by informasisehat

18/07/2009 at 1:05 am

Hepatitis B, Menyerang Tanpa Pandang Bulu

with 2 comments

VIRUS Hepatitis B menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Jika tidak segera diobati, maka infeksi penyakit bisa menyebabkan penyakit hati kronis dan mengancam keselamatan jiwa penderitanya. Karena itu, vaksinasi perlu diberikan pada mereka yang belum memiliki kekebalan tubuh terhadap virus tersebut.

Hepatitis B tidak hanya diderita oleh kelompok usia tertentu, melainkan semua usia mulai bayi, remaja, orang dewasa sampai lanjut usia, kata Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Unggul Budihusodo, Selasa (2/9), dalam diskusi terbuka yang diprakarsai Kantor Berita Radio 68H, di Kedai Tempo, Utan Kayu, Jakarta.

Hepatitis B adalah penyakit infeksi pada hati yang disebabkan virus Hepatitis B. Infeksi Hepatitis B kronik atau jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan hati yang parah seperti pengerasan hati atau sirosis dan kanker hati atau karsinoma hepatoseluler yang dapat mengakibatkan kematian. “Proses perjalanan hepatitis B menjadi kronis bisa lebih dari 10 tahun,” ujarnya.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Hepatitis B endemik di China dan bagian lain di Asia te rmasuk di Indonesia. Sebagian besar orang di kawasan ini bisa terinfeksi Hepatitis B sejak usia kanak-kanak. Di sejumlah negara di Asia, 8-10 persen populasi orang dewasa mengalami infeksi Hepatitis B kronik. Penyakit hati yang disebabkan Hepatitis B merupakan satu dari tiga penyebab kematian dari kanker pada pria, dan penyebab utama kanker pada perempuan.

Infeksi tersembunyi dari penyakit ini membuat sebagian besar orang merasa sehat dan tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi dan berpotensi untuk menularkan virus tersebut kepada orang lain. Penderita penyakit itu umumnya tidak mengalami gejala tertentu yang khas, dan baru bisa diketahui melalui tes kesehatan. Oleh karena itu, penderita dan kelompok yang memiliki faktor risiko hepatitis B perlu menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Penularan virus ini bisa terjadi melalui transfusi darah, hubungan seks, memakai tato, dan menggunakan jarum suntik secara bergantian yang biasanya dilakukan para pengguna narkoba. Jadi, tidak benar jika ada anggapan bahwa virus Hepatitis B bisa menular melalui keringat. “Bahkan, tidak semua penderita bisa menularkan virus itu melalui hubungan intim dengan pasangannya,” kata Unggul.

Penyakit ini, lanjut Unggul, sebenarnya bisa dicegah dengan melakukan pola hidup sehat, penyuntikan vaksin Hepatitis B dan memeriksakan kesehatan diri secara teratur. Untuk penderita Hepatitis B, kini telah ada empat jenis obat untuk mengatasi Hepatitis B yang terlisensi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) dan tersedia di Indonesia yai tu Entecavir (ETV), Lamivudine (LVD) dan Telbivudine.

Sumber: kompas.com

Written by informasisehat

18/07/2009 at 1:03 am

Posted in hepetitis

Tagged with ,

Oplosan Maut Jamu Kimia

leave a comment »

Anda penggemar jamu sebaiknya waspada. Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Jawa Tengah kembali membongkar praktik ilegal pabrikan jamu yang mencampur jamu-jamu dengan bahan kimia obat berbahaya.

Di sebuah gudang di Desa Karangjati, Cilacap, Jawa Tengah, akhir pekan lalu, petugas menemukan puluhan ton jamu oplosan. Di gudang itu pula, sebanyak empat ton atau lebih dari 600 ribu bungkus jamu maut diproduksi setiap harinya.

Modusnya, pabrik jamu ini mencampurkan bahan-bahan kimia obat berbahaya, seperti paracetamol, fenilbutazon, dan piroxicam. Jamu-jamu ini beredar luas di kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, bahkan sampai di luar Pulau Jawa. Omset pabrik ini ditaksir lebih dari Rp 20 miliar setiap bulannya.

Sebagai obat tradisional, jamu semestinya hanya diracik dari bahan alami, seperti tumbuhan dan akar-akaran. Khasiatnya baru dirasakan setelah mengonsumsi dalam waktu lama. Karena dianggap kurang tokcer, banyak pabrikan jamu berlaku culas dengan membubuhi jamu-jamu itu dengan bahan kimia obat seperti dexametason, sildenafil sitrat, CTM, dan paracetamol, agar khasiatnya langsung terasa. Celakanya lagi, pencampuran obat kimia itu dilakukan tanpa mengukur dosis dan efek samping pemakainya.

Jamu yang dioplos dengan bahan kimia obat bisa memicu sejumlah penyakit. Mulai dari alergi, muka bengkak-bengkak, kanker hingga efek paling menakutkan, yakni kematian. Ironisnya, jamu-jamu bermasalah ini mampu menguasai separuh pangsa pasar jamu nasional yang mencapai Rp 3 triliun. Suatu jumlah yang terbilang besar tentunya.

Sepertinya merazia toko-toko dan gudang jamu berbahan kimia obat saja belum cukup. Petugas BPOM dan aparat hukum harus mencari cara lebih jitu untuk memutus mata rantai bisnis gelap jamu kimia itu. Terutama, agar tidak kian banyak warga menjadi korban. Tentu, banyak kalangan tidak menginginkan jamu khas negeri ini dirusak citranya. Atau, kian tidak dipercaya lagi oleh pasar dunia akibat kecurangan para pembuat jamu pengundang maut tersebut.

Sumber: liputan6.com

Written by informasisehat

18/07/2009 at 1:01 am

Dibalik Kenikmatan Ikan Asin

leave a comment »

Kepulan asap putih dari nasi pulen yang masih panas tentu membuat perut yang keroncongan semakin berontak. Apalagi ditambah sambal terasi, lalapan, dan ikan asin. Niscaya, porsi satu piring cepat tandas. Tapi di balik kenikmatan ini nyawa dipertaruhkan.

Jangan terkecoh dengan penampilan ikan segar dan baru turun dari kapal yang baru pulang melaut. Kuat dugaan, ikan-ikan mulai tersentuh formalin sejak dari dalam kapal. Di dalam palka penampungan ikan, nelayan mencampuri ikan hasil tangkapan dengan cairan bernama lain formaldehid itu untuk menekan penggunaan es batu agar lebih murah.

Penelitian di laboratorium menunjukkan hasil positif untuk hampir seluruh produk ikan asin dari Teluk Jakarta. Dalam ikan asin kecil seperti jambal dan cumi-cumi, untuk 10 gramnya terdapat lebih dari 1,5 ppm (part per million atau satu per sejuta) formalin.

Menurut Kepala Bagian Unit Pelaksana Teknis Balai Pengujian Mutu Hasil Perikanan Jakarta Devi Lydia, ikan yang mengandung cairan pengawet mayat bisa langsung diketahui. “Keras sekali. Karena di luar kering tapi di dalam tetap basah,” kata Lydia, baru-baru ini.

Formalin diduga digunakan oleh nelayan Indonesia sejak dua tahun silam. Cairan yang mengandung metanol ini memang biasa dipakai nelayan untuk menjaga bobot ikan asin. Pembuatan tanpa formalin akan mengurangi bobot ikan asin hingga 60 persen. Sedangkan dengan menggunakan larutan bening itu, bobot yang berkurang akibat pengeringan hanya sekitar 30 persen.

Pembuat ikan asin di Muara Angke, Jakarta Utara, juga mengaku produksi menjadi lebih efisien jika menggunakan formalin. Bila hanya menggunakan garam saja, pengeringan bisa dilakukan selama sepekan. Jika menggunakan cairan pembasmi bakteri tersebut, dalam satu atau dua hari saja ikan asin siap dijual.

Penggunaan formalin pada ikan memang tak segencar sebelumnya. Ini menyusul edaran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 722/Menkes/Per/IX/88 tentang bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam pangan.

Padahal berdasarkan penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia tahun silam, penggunaan formalin pada ikan dan hasil laut menempati peringkat teratas. Yakni, 66 persen dari total 786 sampel. Sementara mi basah menempati posisi kedua dengan 57 persen. Tahu dan bakso berada di urutan berikutnya yakni 16 persen dan 15 persen.

Tapi tetap saja masih banyak nelayan yang bengal. Menurut Kepala Balai Pengujian Mutu dan Pengolahan Hasil Perikanan dan Kelautan Jakarta Redjani Kartoatmodjo, pihaknya memang masih menemukan penggunaan formalin pada pembuatan ikan asin. Pernyataan Redjani diamini Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jakarta Riyadi. “Sebagian teman-teman nelayan masih menggunakan bahan kimia,” kata Redjani.

Di antara nelayan yang mulai meninggalkan penggunaan formalin adalah yang berada di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Tapi akibatnya selain keuntungan berkurang, ikan asin buatan mereka diganggu bakteri, serangga dan belatung. Terutama saat musim hujan. Ujung-ujungnya, mereka menggunakan insektisida yang disemprotkan langsung ke ikan asin. “Biasanya langsung disemprot pake Baygon aja,” kata seorang nelayan yang enggan disebut namanya.

Penggunaan insektisida dan formalin pada hasil laut diakui Kepala Dinas Perikanan Jawa Barat Darsono. Penggunaan formalin menurut Darsono, karena harga bahan pengawet ini relatif murah. “Penggunaan formalin masih banyak ditemukan di antaranya di Bandung kota dan sekitarnya,” tutur Darsono.

Sebenarnya sudah ada produk pengawet ikan yang sudah direstui penggunaannya. Yaitu minatrid. Namun karena alasan masih baru dan kesulitan untuk mencari bahan pengawet ini, formalin masih merajalela. Padahal asupan formalin dalam tubuh yang berlangsung menahun dapat mengakibatkan gangguan pada sistem pernapasan, gangguan pada ginjal dan hati, sistem reproduksi dan kanker. Gangguan yang ringan adalah rasa terbakar pada tenggorokan dan sakit kepala.

Selain ikan asin, kerang juga tak luput dari penggunaan zat kimia berbahaya bagi tubuh. Pengolah kerang menggunakan bahan pewarna Rhodamine B yang seharusnya untuk pakaian atau biasa disebut wantek. Tujuannya untuk membuat kerang yang telah dikupas agar tak terlihat pucat. Zat kimia ini akan menumpuk pada tubuh dan pada gilirannya juga meracuni organ dalam, terutama ginjal dan hati.

Kerang dipanen nelayan saat berumur enam bulan. Di Jakarta, kerang biasa dipelihara di Teluk Jakarta. Binatang bernama ilmiah Anadara granosa ini biasanya langsung direbus dengan air laut usai dipanen. Setelah matang, kerang diturunkan dari tong perebusan untuk kemudian dikupas dari kulitnya.

Puluhan pekerja kemudian melepaskan daging dari kulit kerang untuk diolah lebih lanjut. Hingga tahap ini tak ada masalah dengan pengolahan. Semua berjalan baik dan tak ada peran bahan kimia beracun. Kerang yang sudah dicabuti ini belum dibersihkan dari kotoran yang menempel. Pembersihan akan dilakukan setelah satu tong penuh kerang atau sekitar seratus kilogram.

Zat kimia mulai campur tangan ketika datang es batu untuk pengawetan. Setelah es siap, petani kerang kemudian membuat larutan “ajaib”. Satu tong kecil air ditaburi wantek berwarna oranye. Sekitar 15 menit kemudian kerang terlihat lebih segar. Kerang yang telah didandani ini kemudian dimasukkan tong untuk dijual. Tapi sebelumnya, kerang ditaburi tawas yang biasanya digunakan untuk menjernihkan air. Alasannya, agar menjadi lebih kenyal dan bisa disimpan selama satu hari satu malam sebelum dikirim ke pelelangan ikan.

Kembali ke Pelabuhan Ratu, di daerah ini nelayan setempat juga memakai zat pewarna dari golongan Rhodamin B. Mereka biasanya memakai pewarna tekstil berwarna merah untuk membuat terasi. Berbahayanya zat kimia ini pada tubuh bisa terlihat dari alat pembuat terasi yang berwarna merah kendati setelah dibasuh air.

Baik dalam pewarnaan kerang maupun terasi, semua pembuatnya mengaku menggunakan bahan kimia pewarna kue. Sungguh tidak logis. Karena pewarna kue harganya rata-rata Rp 10 ribu untuk 10 cc. Sementara wantek dibanderol Rp 5-10 ribu per kilogram. Sedangkan untuk mewarnai kerang atau terasi per 100 kg, diperlukan satu hingga dua kilogram pewarna.

Alasan ekonomi memang menjadi pangkal dari penyalahgunaan zat kimia berbahaya bagi tubuh dalam penganan. Padahal pangan yang aman, bermutu dan bergizi adalah hak setiap orang. Tapi sepertinya penganan ideal ini hanya sebatas impian. Apalagi untuk makanan yang nikmat tapi murah.

Sumber: dinowili.multiply.com

Written by informasisehat

18/07/2009 at 12:58 am

Korban Flu Meksiko Orang Muda Berusia 25-45 Tahun

leave a comment »

Korban Flu Meksiko Orang Muda Berusia 25-45 Tahun

Mayoritas korban flu babi jenis baru di Meksiko adalah orang muda. Usia mereka berkisar antara 25-45 tahun.

“Mayoritas orang muda berusia 25-45 tahun,” kata salah seorang pejabat yang enggan disebut namanya seperti dikutip Reuters, (25/4/2009).

Hal tersebut tentu saja mengkhawatirkan. Sebab flu musiman lebih mematikan bagi anak kecil dan orang tua. Tanda-tanda dari munculnya pandemi adalah ketika flu itu menyerang orang-orang muda yang sehat.

Flu tersebut telah membunuh lebih dari 60 orang di Meksiko. Flu serupa juga menyebar di Amerika Serikat dan menjangkiti 8 orang. Namun kedelapan orang itu berhasil disembuhkan.

Sekolah diliburkan dan acara-acara publik dibatalkan di Kota Meksiko gara-gara menyebarnya flu ini. Sejauh ini diperkirakan 1.000 orang telah terjangkit.

Pejabat kesehatan global memang belum menyiarkan terjadinya pandemi. Meski begitu, mereka mulai meningkatkan kewaspadaan. Flu ini disebut-sebut merupakan kombinasi antara flu manusia, flu burung, dan flu babi.

Pandemi flu terakhir terjadi pada tahun 1968. Saat itu flu ‘Hong Kong’ menewaskan sekitar 1 juta orang di seluruh dunia.

Sumber: detiknews

Asalnya dari Babi yang Demam, Batuk dan Depresi

Kasus kematian akibat flu babi menggemparkan dunia. Apa sebenarnya pemicu virus yang dikenal juga dengan nama Schwein Influenza Virus (SIV) tersebut?

“Pemicunya hampir mirip dengan flu burung. Berasal dari binatang yang demam, batuk dan depresi,” kata Dirjen Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Tjandra Yoga di Makassar, Sabtu (25/4/2009) malam.

Virus ini menyebar dengan sangat cepat. Sejak kasus pertama ditemukan pada Maret lalu, sudah ada temuan kasus yang menular dari manusia ke manusia.

“Termasuk kasus 8 pasien di Amerika, sudah human to human karena terjadi di 3 cluster,” jelasnya.

Namun Tjandra menegaskan, virus ini berbeda dengan tipe flu burung. Jika flu burung bertipe H5N1, maka flu babi H1N1.

“H1N1 mirip dengan flu biasa yang dialami manusia,” tambahnya.

Flu tersebut telah membunuh lebih dari 60 orang di Meksiko. Flu serupa juga menyebar di Amerika Serikat dan menjangkiti 8 orang. Namun kedelapan orang itu berhasil disembuhkan.

Sekolah diliburkan dan acara-acara publik dibatalkan di Kota Meksiko gara-gara menyebarnya flu ini. Sejauh ini diperkirakan 1.000 orang telah terjangkit.

Pejabat kesehatan global memang belum menyiarkan terjadinya pandemi. Meski begitu, mereka mulai meningkatkan kewaspadaan. Flu ini disebut-sebut merupakan kombinasi antara flu manusia, flu burung, dan flu babi.

Sumber: detiknews

Written by informasisehat

18/07/2009 at 12:54 am

Posted in flu

Tagged with , ,

Kombucha

leave a comment »


Kombucha adalah jamur teh yang berasal dari Asia Timur dan tersebar ke Jerman melalui Rusia sekitar pergantian abad ke-20. Penyembuh berbagai macam penyakit ini semakin banyak digunakan di rumah tangga di pelbagai negara di Asia.

Jamur kombucha merupakan membran jaringan-jamur yang bersifat gelatinoid dan liat, serta berbentuk piringan datar. Kombucha hidup dalam larutan nustrisi teh-gula yang tumbuh dengan cara germinasi. Pada mulanya, piringan jamur tumbuh meluas pada permukaan teh lalu menebal. Bila dirawat secara benar, jamur ini akan tumbuh pesat dan sehat, sehingga akan hidup sepanjang umur pemilik serta keturunannya.

Kombucha tea (teh kombucha) merupakan produk minuman tradisional hasil fermentasi larutan teh dan gula dengan menggunakan starter mikroba kombucha (Acetobacter xylinum dan beberapa jenis khamir) dan di fermentasi selama 8-12 hari. kombucha adalah suatu ramuan minuman kuno, yang merupakan hasil dari simbiosis murni dari bakteri dan ragi kombucha yang berasal dari Asia Timur, dan sampai di Jerman melalui Russia sekitar akhir abad lalu. Kombucha berfungsi sebagai penyembuh terhadap berbagai macam penyakit ini telah di gunakan berulang kali dirumah tangga diberbagai negara Asia. Jamur tersebut terdiri dari gelatinoid serta membrane jamur yang liat dan berbentuk piringan bulat serta hidup dalam lingkungan nustrisi teh-manis yang akan tumbuh secara berulang sehingga membentuk susunan piringan berlapis. Piringan pertama akan tumbuh pada lapisan paling atas yang akan memenuhi lapisan, kemudian disusul oleh pertumbuhan piringan berlapis-lapis dibawahnya yang akan menebal. Bila dirawat secara benar, jamur ini akan tumbuh pesat dan sehat.

Selama proses fermentasi dan oksidasi berlangsung, terjadi bermacam-macam reaksi pada larutan teh-manis secara asimilatif dan disimilatif. Jamur teh memakan gula, dan sebagai gantinya memproduksi zat-zat bermanfaat yang dalam minuman tersebut, seperti asam glukuronat, asam laktat, vitamin, asam amino, antibiotik, serta zat-zat lain. Maka dari itu, jamur kombucha ini bagaikan sebuah pabrik biokimia mini.

Khasiat Kombucha

Pada tahun 1914 Bacinskaja menyatakan bahwa minuman ini efektif untuk kegiatan perut dan usus, khususnya pada bagian pembuangan. Ia menyarankan orang meminum segelas kecil sebelum makan dan meningkatkan takarannya secara berangsur-angsur untuk mendapatkan khasiat yang nyata dari minuman ini.

Professor S. Bazarewski mengemukakan dalam suatu laporan di “Correspondence for the Association of Nature Researchers in Riga” (1915) bahwa penduduk berbangsa Latvia di Provinsi Rusia Baltic, yaitu di Livland dan Kurland, mempunyai obat tradisional yang bernama “Brinum Ssene”, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai “Jamur Ajaib”. Penduduk Latvia menggambarkan jamur ini sebagai “kekuatan penyembuh yang ajaib untuk berbagai macam penyakit”, sesuai dengan uraian Bazarewski. Beberapa orang yang ditanyai Bazarewski menyatakan bahwa jamur ini bisa menyembuhkan sakit kepala, tetapi yang lain juga menyatakan kepadanya bahwa “jamur ini sangat berguna dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit”.

Dari beberapa penelitian, ditemukan bahwa kombucha sangat baik untuk:

Cara Kerja Kombucha

Dalam pelbagai laporan tertulis di berbagai lembaga maupun pengalaman perorangan, banyak kesaksian yang meyakinkan muncul. Hal ini dapat dijelaskan dengan memahami bahwa kombucha tidaklah khusus membidik organ tubuh tertentu, namun memengaruhi tubuh secara menyeluruh, dengan menstabilkan metabolisme tubuh dan menawarkan racun dengan asam glukuronat. Hal ini menyebabkan peningkatan kapasitas pertahanan endogenis tubuh terhadap pengaruh beracun dan tekanan lingkungan, sehingga metabolisme sel yang rusak diperkuat, dan berlanjut dengan pemulihan kesehatan tubuh.

Beberapa sifat menyehatkan teh kombucha ini harus didukung oleh penelitian lebih lanjut. Namun, mekanisme aktif lainnya telah dibuktikan melalui pengujian dan percobaan ilmiah, seperti pada: pengaturannya terhadap bakteri pada alat pencernaan, penguatan sel, detoksifikasi dan seperti mengurangi kelebihan keringat, harmonisasi metabolis, efek antibiotik, memfasilitasi keseimbangan pH tubuh.

Kandungan asam glukonat yang ada pada minuman kombucha mampu memperkuat daya kekebalan tubuh terhadap infeksi dari luar serta mempunyai kemampuan untuk mengikat racun dan mengeluarkannya dari tubuh lewat urine. Kandungan antimikroba pada minuman kombucha mampu menghambat pertumbuhan Shigella sonmei, E. coli, dan Salmonella typhimurium.

Selama fermentasi kultur kombucha akan menghasilkan sejumlah alkohol, karbondioksida, vitamin B, vitamin C, serta berbagai jenis asam organik yang sangat penting bagi metabolisme manusia seperti asam asetat, asam glukonat, asam glukoronat, asam oksalat, dan asam laktat. Komposisi larutan media (teh) mempengaruhi aroma dan rasa kombucha. Komposisi yang dimaksud adalah gula-gula residu, kaarbondioksida dan asam organik (terutama rasio antara asam asetat dengan asam glukonat). Asam asetat yang bersifat volatil menghasilkan aroma kuat dan menusuk serta aroma asam, sedangkan flavor asam yang dihasilkan asam glukonat lembut.

Cara Membuat Kombucha

Minuman kombucha dapat dibuat sendiri dengan biaya murah. Karena jamur senantiasa tumbuh, minuman bisa dibuat dengan sepotong membran jamur-teh dan membiarkan ramuan sehat ini berkembang sendiri. Pembibitannya tidak sulit jika diketahui caranya. Sejak zaman dahulu, minuman Kombucha dipersiapkan di rumah dan dibagi-bagikan kepada sanak-saudara dan handai-taulan sebagai tanda persahabatan serta gotong royong. Teh jamur ini mempunyai daya hidup tinggi dan mudah berkembang biak.

Langkah-langkah pembuatan kombucha adalah sebagai berikut: 1. Ekstraksi teh, 10-20 gr teh hijau/hitam dimasukkan ke dalam 1 liter air panas/mendidih dalam stainless steel biarkan selama 10 menit.

2. Penyaringan, dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan teh dengan air seduhan.

3. Pencampuran, ekstrak teh ditambahkan gula pasir sekitar 10% dari volume air seduhan.

4. Pendinginan, setelah dilakukan penyaringan dan pencampuran, seduhan teh dituangkan ke dalam toples gelas dengan permukaan yang luas dan kemudian ditutup dengan kain yang rapat, agar semut, lalat dan nyamuk, debu atau polutan lainnya tidak bisa masuk, namun udara bisa mengalir dengan bebas. Ikat tutup toples dengan karet, lalu didinginkan sampai suhu 27°C. Bila teh sudah sama dengan temperatur ruangan, masukkan kedalam toples, atau tempat/wadah dari Stainless Steel. Untuk alasan keamanan, maka hendaknya digunakan bahan-bahan yang ditujukan khusus untuk bahan pangan. Dalam hal pembuatan kombucha, wadah dari gelas/kaca merupakan yang terbaik.. Metal/besi selain Stainless Steel tidak baik sebagai kontainer bahan pangan karena asam (acids) yang terbentuk akan bereaksi pada metal. Pemakaian bahan sintetis tingkat tinggi (masuk kelompok polylefine, seperti polyethylene (PE) atau polypropylene juga diperbolehkan, akan tetapi pemakaian tempat/wadah yang terbuat dari polyvinylchloride (PVC) atau polystyrene harus dihindarkan.

5. Inokulasi, adalah penambahan starter (berupa lapisan selulosa yang didalamnya mengandung mikroba kombucha), sebelum starter digunakan biarkan terlebih dahulu kurang lebih 30 menit berada di udara bebas.

6. Fermentasi, setelah diinokulasi, toples ditutup kembali dengan kain/kertas dan disimpan pada suhu kamar selama 8-12 hari. Fermentasi berlangsung sekitar 8 – 12 hari, tergantung suhu. Lebih hangat temperatur ruangan, lebih cepat proses fermentasinya. Periode 8 – 12 hari diberikan hanya sebagai pedoman. Koloni kombucha memerlukan tempat yang tenang dan hangat dan tidak boleh digoyang dan dipindah-pindah. Temperatur teh tidak boleh berada dibawah 68°F (= 20°C) dan tidak boleh lebih dari 86°F (=30°C). Temperatur idealnya adalah 74- 80°F (=23 – 27°C). Koloni kombucha juga tidak membutuhkan sinar matahari dalam proses fermentasinya dan koloni tersebut akan rusak terkena sinar matahari.Pada saat proses fermentasi terjadi, gula akan dipecah oleh khamir dalam starter dan akan terbentuk CO2. Cairan teh tersebut menjadi berbuih dan rasanya akan lebih masam. Ketika tingkat keasaman pH sekitar 2,7-3,2, maka fermentasi sudah dapat dihentikan.

7. Pemisahan dan penyaringan, lapisan selulosa yang terbentuk dipisahkan dari seduhan teh fermentasi dan disimpan dalam toples lainnya. Seduhan teh hasil fermentasi disaring supaya bersih dari residu fermentasi. Teh kombucha siap dikonsumsi. Sebaiknya sebelum dikonsumsi dan disimpan produk tersebut dipanaskan dahulu, supaya tidak terjadi fermentasi lanjutan(Cakrawala, 2007). Setiap kali selesai fermentasi pada saat pemisahan selalu disisakan sepersepuluh (10%) bagian untuk keperluan pembuatan kombucaha tea berikutnya. Tutup botol dengan rapat dengan menggunakan kain.

Faktor Kehigienisan

Barangsiapa menjaga jamurnya dengan aturan dengan teliti dan hati-hati, tidak akan menjumpai kesulitan. Dalam laporan dari Rusia, diterangkan bahwa tidak perlu dilakukan penjagaan khusus terhadap jamur ini, karena jamur ini bisa menjaga dirinya sendiri terhadap kotoran. Jamur ini memiliki beberapa senjata guna menjaga dirinya seperti: asam organik, kandungan alkohol yang rendah, asam karbonat, produk antibiotik yang akan merintangi pertumbuhan mikroorganisme asing yang bukan berasal dari jamur itu sendiri.

Peneliti dari Rusia, I.N. Konovalow mengemukakan dalam laporannya pada tahun 1959, bahwa pertumbuhan jamur dan bakteri teh yang intensif ini mencegah pertumbuhan jamur dan bakteri lainnya. Demikian pula, Professor G.F. Barbancik dari Rusia (1958) melaporkan dalam bukunya mengenai teh-jamur yang didasarkan atas penelitian laboratorium, yang menunjukkan bahwa mikroba lain diusir teh jamur ini secara kuat (antagonisme).

Proses Fermentasi Kombucha

Proses fermentasi dimulai ketika kultur mengubah glukosa menjadi alkohol dan CO2, kemudian bereaksi dengan air membentuk asam karbonat. Glukosa berasal dari inversi sukrosa oleh khamir menghasilkan glukosa dan fruktosa. Acetobacter sebagai bakteri utama dalam kultur kombucha mengoksidasi etanol menjadi asetaldehid lalu kemudian menjadi asam asetat. Aktivitas biokimia yang kedua dari bakteri Acetobacter adalah pembentukan asam glukonat yang berasal dari oksidasi glukosa. Sukrosa dipecah menjadi gluosa dan fruktosa oleh khamir. Pada pembuatan etanol oleh khamir dan selulosa oleh A.xylinum, glukosa dikonversi menjadi asam glukonat melalui jalur fosfat pentosa oleh bakteri asam asetat, sebagian besar fruktosa dimetabolis menjadi asam asetat dan sejumlah kecil asam glukonat. Bakteri asam laktat juga menggunakan glukosa untuk mensintesis selulosa mikroba. Fruktosa masih tertinggal sebagian dalam media fermentasi dan diubah menjadi bentuk yang lebih sederhana oleh mikroorganisme sehingga dapat digunakan sebagai substrat fermentasi. Kultur dalam waktu bersamaan juga menghasilkan asam-asam organik lainnya. Bakteri A. xylinum mengubah gula menjadi selulosa yang disebut nata/pelikel dan melayang di permukaan medium. Jika nutrisi dalam medium telah habis dikonsumsi, kultur akan berhenti tumbuh tetapi tidak mati. Kultur akan aktif lagi jika memperoleh nutrisi kembali. Bakteri asam asetat memanfaatkan etanol untuk tumbuh dan memproduksi asam asetat. Adanya asam asetat menstimulasi khamir untuk memproduksi etanol kembali. Interaksi simbiosis ini ditemukan pada Glukonobacter dan S.cerevisiae. Konsentrasi asam asetat dalam kombucha hanya meningkat sampai batas tertentu lalu mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena pemanfaatan asam asetat lebih lanjut oleh A.xylinum ketika jumlah gula dalam media teh mulai habis. Penurunan kadar asam ini juga dikarenakan fermentasi etanol oleh khamir juga mengalami penurunan dikarenakan pH yang sangat rendah serta mulai habisnya gula dalam larutan.

Acetobacter juga mampu menghidrolisa sukrosa menggunakan levansukrase menjadi glukosa dan sebuah polisakarida fruktosa. Jenis gula (sukrosa, glukosa, fruktosa) memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap pembentukan etanol dan asam laktat, namun konsentrasi gula secara individu hanya mempunyai pengaruh yang sangat kecil terhadap flavor kombucha.

Selama proses fermentasi kombucha tea terjadi aktivitas mikroorganisme yang berlangsung secara simultan dan sekuensial. Proses fermentasi dimulai dengan aktivitas khamir yang memecah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa dengan bantuan enzim ekstraseluler invertase dan selanjutnya glukosa direduksi menjadi etanol dan karbondioksida yang terbentuk bereaksi dengan air membentuk asam karbonat.

Laju pemecahan sukrosa menjadi fruktosa lebih tinggi dibandingkan terhadap produksi glukosa. Kedua gula ini dapat digunakan oleh A.xylinum untuk memproduksi asam2 organik dan biosintesis selulosa. A.xylinum tidak aktif memetabolisir fruktosa seperti halnya glukosa, sehingga fruktosa terakumulasi di dalam larutan.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam proses fermentasi adalah:

1. Ketersediaan nutrisi meliputi unsur C, N, P, dan K.

2. pH medium sekitar 5,5.

3. Suhu fermentasi 23°C-27°C dengan tolaransi dalam kisaran 18°C-35°C.

4. Ketersediaan udara namun tidak dalam bentuk aerasi aktif.

5. Tidak boleh ada goncangan atau getaran.

6. Tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung.
Lama fermentasi akan berlangsung selama 4-14 hari. Semakin lama fermentasi maka rasa teh kombucha akan semakin asam dan rasa manis akan semakin berkurang. Lama fermentasi yang disarankan adalah 14 hari karena gula telah benar-benar difermentasi dari minuman dan minuman memiliki rasa yang kuat seperti anggur.

Pada fermentasi 10 hari, dengan kadar gula awal 8%, akan diperoleh fruktosa 25g/L, asam glukonat 3,1 g/L, dan asam asetat 2 g/L. Jika fermentasi diperpanjang menjadi 13 hari, maka fruktosa akan menjadi 15,03 g/L, asam glukonat 6,64 g/L dan asam asetat 8,61 g/L

Kultur Kombucha

Kultur kombucha mengandung berbagai macam bakteri dan khamir diantaranya Acetobacter xylinum, A. aceti, A. pasteurianus, Gluconobacter, Brettanamyces bruxellensis, B. intermedius, Candida fomata, Mycoderma, Mycotorula, Pichia, Saccharomyces cerevisiae, Schizosaccharomyces, Torula, Torulaspora delbrueckii, torulopsis, Zygosaccharomyces bailii dan Z. rouxii.

Kultur kombucha berbentuk seperti pancake yang berwarna putih (pucat) dan bertekstur kenyal seperti karet dan menyerupai gel. Kultur yang disebut pelikel ini terbuat dari selulosa hasil metabolisme bakteri asam asetat. Kultur kombucha dapat terletak mengapung di permukaan cairan atau kadang dijumpai tenggelam di dalam cairan teh kombucha. Kultur kombucha mencerna gula menjadi asam-asam organik, vitamin B dan C, serta asam amino dan enzim. Kultur ini juga berperan sebagai mikroorganisme probiotik yang baik bagi kesehatan.

Koloni kombucha mewakili hubungan simbiosis antara bakteri dan khamir. Acetobacter xylinum dalam aktivitasnya menunjukkan perannya sebagai bakteri utama dalam koloni kultur. Beberapa kombinasi bakteri-khamir dalam kombucha antara lain Acetabacter sp. dan Pichia, Zygosaccharomyces, jumlah khamir yang terdapat di dalam koloni sangat bervariasi, namun yang paling sering ditemukan berasal dari genera Brettanomyces, Zygosaccharomyces dan Saccharomyces. Rendahnya laju kontaminasi oleh mikroorganisme berbahaya (patogen dan pembusuk) menandakan bahwa kombucha juga dapat diproduksi sendiri tanpa adanya resiko pathogen bagi kesehatan. Keasaman produk kombucha relatif tinggi, yaitu dengan total asam sekitar 33 g/L, dan dalam jumlah ini kontaminan lain akan sulit tumbuh. Namun apabila fermentasi berlangsung terlalu lama, maka keasaman akan meningkat sangat jauh sehingga dapat membahayakan orang yang mengkonsumsinya.

pH yang rendah dan kondisi lingkungan yang anaerob menyebabkan viabilitas khamir dan bakteri menjadi menurun selama fermentasi berlangsung, namun masih ada beberapa genera baik khamir maupun bakteri yang dapat tahan dalam kondisi tersebut.

Langkah-langkah prosedur dilakukan sama seperti proses pembuatan kombucha tea, tetapi toplesnya bisa digunakan yang lebih kecil. Lapisan selulosa yang baru terbentuk dan seduhan teh yang sudah difermentasi dijadikan starter untuk pembuatan minuman kombucha tea. Agar diperoleh kepuasan maksimal dari minuman ini, biarkan minuman ini sekitar beberapa hari (sekurang-kurangnya 5 hari) setelah ditaruh dalam botol. Kegiatan bakteri terhenti karena minuman yang di dalam botol tanpa udara, sementara raginya terus bekerja. Jika botol benar-benar tertutup dengan baik, gas yang dihasilkan oleh kegiatan ragi, tidak bisa keluar, sehingga minuman yang berbuih halus biasa dihasilkan.

Komponen-komponen yang terbentuk selama proses fermentasi kombucha

1. Asam laktat

Asam laktat yang ada di dalam kombucha sebagian besar terdapat dalam bentuk L(+)-laktat. Asam laktat penting bagi sistem pencernaan manusia. Asam laktat juga digunakan sebagai indikator penyakit kanker.

2. Asam asetat

Asam asetat dapat menghambat bakteri berbahaya sehingga sering digunakan menjadi pengawet. Asam asetat merupakan komponen yang memberi aroma dan rasa khas pada kombucha.

3. Asam malat

Asam malat penting dalam proses detoksifikasi tubuh.

4. Asam oksalat

Asam oksalat dapat berfungsi sebagai pengawet alami dan juga mendukung sel dalam memproduksi energi bagi tubuh.

4. Asam glukonat

Asam glukonat efektif dalam infeksi yeast seperti Candida.

5. Asam butirat

Asam butirat diproduksi oleh khamir dan bekerja sama melawan infeksi khamir dengan asam glukonat.

6. Asam nukleat

Meningkatkan regenerasi sel yang baik dan sehat.

7. Asam amino

Merupakan sekelompok asam yang berperan dalam pembentukan protein. Asam amino penting dalam pembelahan sel dan memperbaiki jaringan yang rusak. Asam amino juga dapat membentuk antibodi yang dapat melawan bakteri dan virus.

8. Enzim

Enzim adalah bagian dari protein yang bertindak sebagai biokatalis, mempercepat laju reaksi biokimia dalam tubuh. Oleh karena itu, enzim akan meningkatkan fungsi-fungsi kesehatan kombucha dengan tubuh.

9. Kombucha juga mengandung beberapa vitamin B dan C, serta bakteri dan khamir yang penting.

The Fascination of Kombucha – Artikel diterjemahkan dari isi halaman ini

Written by informasisehat

16/07/2009 at 6:50 am

Gejala dan Cara Mencegah Flu Babi

with one comment

Mengingat penyebaran Flu Babi yang telah menjangkau atau mencapai Indonesia, ada baiknya kita mengetahui sedikit Gejala dan Cara Mencegah Flu babi. Apakah Flu babi itu? Flu babi adalah penyakit pernapasan yang menjangkiti babi, disebabkan oleh Virus H1N1. penyakit ini sebenarnya sudah ada sejak dulu dan memiliki banyak jenis. Layaknya flu pada manusia, penyakit ini secara konstan bermutasi. Virus H1N1 klasik pada dasarnya tidak terlalu berbahaya. H1N1 Meksiko yang sekarang mewabah inilah yang berbahaya. Virus ini disinyalir sebagai gabungan Informasi genetik dari Virus yang berasal dari manusia, babi dan unggas.

Gejala Flu babi ada beberapa macam. Umumunya gejala penyakit ini seperti gejala pada penyakit Flu pada Umumnya seperti Pilek berat, demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, rasa lelah, muntah-muntah dan diare. Flu babi menular lewat makanan yang berasala dari babi tetapi banyak juga yang menyebar lewat udara serta barang2 yang pernah digunakan oleh penderita Flu Babi.

Tips Mencegah Flu Babi

INILAH.COM, Jakarta – Wabah flu babi yang merebak semakin meresahkan komunitas internasional. Meski berbahaya, penyakit ini bisa dicegah. Tak perlu khawatir, berikut adalah tips untuk mencegah segala jenis flu dan penyakit pernapasan yang ditularkan dari manusia ke manusia.

Tips pertama dan termudah adalah rajin mencuci tangan dengan sabun dan air beberapa kali sehari. “Tak ada yang bisa menggantingkan pentingnya cuci tangan,” demikian pernyataan dari Sekretariat Tim Kerja ASEAN untuk One Health (ASEC-ONE Health) dalam situs resmi mereka, Selasa (28/4).

Hindari terlalu sering menyentuh mata, hidung, atau mulut. Virus flu seringkali menyebar saat seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi kuman, lalu menyentuh mata, hidung, dan mulut masing-masing.

Jika ada laporan wabah flu, untuk sementara hindari dulu berjabat tangan dan mencium orang lain. Hindari tempat umum jika Anda sakit, untuk mencegah penularan penyakit kepada orang lain. Jangan lupa menutup mulut dan hidung ketika bersin atau batuk, hal ini juga bisa mencegah penyebaran virus.

“Jika tak punya tisu atau sapu tangan, tutup bersin atau batuk dengan lengan baju, jangan gunakan tangan untuk menutupinya. Buanglah tisu di tempat sampah dan gunakan masker untuk melindungi orang-orang sekitar,” lanjut tips ASEC-ONE Health.

Sebisa mungkin, jaga jarak dengan mereka yang sehat, sehingga Anda tidak menulari. Ada baiknya jika Anda membiasakan diri dengan gaya hidup sehat. Hindari merokok, tidur cukup, olahraga yang cukup, kelola stres, banyak minum air dan konsumsi makanan sehat yang bernutrisi.

Sehubungan dengan flu babi yang mewabah di beberapa negara, hindari bepergian ke negara yang melaporkan kasus akibat varian baru virus H1N1 itu. Jika sakit, jangan menggunakan pesawat terbang atau transportasi umum lainnya.

“Jika Anda sakit setelah mengunjungi negara yang melaporkan flu babi, segera laporkan pada petugas medis terdekat. Dengarkan otoritas kesehatan di masing-masing tempat,” lanjutnya. Terpenting, selalu ikuti perkembangan terbaru dari wabah flu ini dan tindakan medis yang disarankan oleh otoritas kesehatan setempat. [vin/dil]

http://www.inilah.com/berita/politik/2009/04/28/102619/tips-mencegah-flu-babi/

Tips Mencegah Flu Babi

Masyarakat perlu mengantisipasi penyebaran penyakit flu babi yang disebabkan virus H1N1 dengan mengupayakan pola hidup sehat, kata dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dr Agus Widiyatmoko SpPD MSc.

“Pola tersebut dapat dilakukan dengan mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sesering mungkin. Jika batuk atau bersin, perlu menutup hidung dan mulut dengan tisu, dan membuang tisu itu di tempat sampah atau menggunakan masker,” katanya di Yogyakarta, Selasa (14/7).

Selain itu, menurut dia pada pola hidup sehat sebagai antisipasi penyebaran flu babi, penting pula bagi orang untuk menjaga jarak sedikitnya satu meter dengan orang lain yang menderita sakit flu. Jika mengalami gejala flu segera ke klinik terdekat, dan tinggal di rumah untuk beristirahat.

“Bagi orang yang sudah dinyatakan positif menderita flu babi diharapkan mereka menggunakan masker serta melakukan isolasi diri selama masa inkubasi, yakni sekitar 7-14 hari agar virus tersebut tidak menyebar lebih luas lagi,” ujar Agus, seperti dilansir Antara.

Namun demikian, menurut dia, masyarakat tidak perlu panik karena angka kematian dari virus H1N1 di bawah satu persen. Terlebih gejala virus tersebut dapat diantisipasi dengan melakukan pola hidup sehat.

Selain itu, kata Agus, pada dasarnya tubuh manusia mempunyai kemampuan menghancurkan benda-benda asing yang masuk ke tubuh termasuk virus. Jika daya tahan kuat, virus tidak akan menjangkiti, tetapi jika daya tahan lemah, virus akan mudah menjangkiti.

Ia mengatakan tamiflu pada dasarnya merupakan obat untuk influenza secara umum. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan resistensi, sehingga tamiflu harus digunakan secara tepat dan melalui resep dokter.

“Tanpa tamiflu sekali pun, penderita H1N1 dapat sembuh dengan istirahat cukup, karena tubuh mempunyai kemampuan pemulihan,” tutur Agus.

Menurut dia, saat ini flu babi telah menjadi pandemi karena virus H1N1 tidak dapat diprediksi kapan akan datang dan berakhir. Pandemi virus ini telah menjangkiti banyak negara di seluruh benua dan tidak dapat dihentikan.

Dengan demikian, apa yang harus dilakukan negara yang terserang pandemi itu adalah mengurangi dampak flu tersebut agar tidak menyebar lebih luas lagi.

“Untuk itu, perlu ada kesadaran dari orang yang menderita flu jenis ini untuk tidak menularkan kepada orang lain, mengingat penyebarannya sangat mudah,” kata Agus.

Sriwijaya Post – Rabu, 15 Juli 2009 11:38 WIB

Written by informasisehat

15/07/2009 at 12:52 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.