HIDUP SEHAT

hidup sehat adalah pilihan

Bahaya Mengintip Si Perut Buncit

leave a comment »

Bahaya Mengintip Si Perut Buncit

62982_perut_buncit_thumb_300_225

KOMPAS.com – Bagi perempuan, kondisi perut membuncit merupakan tanda adanya bahaya kesehatan. Di antaranya:

Kanker ovarium. Kanker ovarium menjadi penyebab kematian terbanyak dari semua jenis kanker ginekologi. Kepala studi ini, Dr Michael L Leitzman dari Lembaga Kanker Nasional Amerika Serikat (AS) di Bethesda, Maryland, dan Universitas Regensburg di Jerman, mengatakan bahwa perempuan yang mengalami obesitas memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk terserang kanker ovarium. Memang belum jelas mengapa obesitas memiliki kontribusi terhadap kanker ovarium. Kemungkinan hal ini berkaitan dengan efek lemak tubuh yang berlebihan terhadap kadar estrogen dalam tubuh seorang perempuan. Ini pun kerap dapat membuat siklus menstruasi tidak teratur, tambahnya.

Kanker rahim. Selain itu, studi itu mencakup lebih dari 28.000 kasus kanker di Amerika Utara, Eropa, Australia, serta Asia. Kelebihan berat badan, hingga di atas 13 kg dari berat badan normal, pada kalangan perempuan ternyata meningkatkan risiko kanker pada rahim dan kandung kemih hingga 60 persen.

Kanker payudara. Pada penduduk Asia, terhadap kaitan lebih erat antara pertambahan indeks massa tubuh (IMT), dengan risiko serangan kanker payudara.

Kepikunan. Menurut hasil penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal kesehatan Neurology, para pemilik perut buncit dan berlemak lebih, ternyata berisiko mengalami kepikunan di usia tuanya. Menurut Dr Jose Luchsinger dari Columbia University Medical Center, New York, AS, yang meneliti kaitan antara perut buncit dan kepikunan, hasil studi semacam itu belum bisa dijadikan bukti lemak di perut menyebabkan kepikunan di masa datang. Namun, ia menduga kadar insulin yang dimiliki orang berperut buncit memiliki peranan terhadap terjadinya demensia.

Penyakit jantung. Menurut hasil penelitian yang diuraikan dalam simposium American Heart Association (Asosiasi Jantung Amerika), menyebutkan bahwa lingkar pinggang berukuran besar merupakan indikasi risiko tinggi serangan jantung atau penyakit serius lainnya. Hal ini harus diperhatikan.

Sesak nafas. Penimbunan lemak yang berlebihan di bawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru. Hal ini menimbulkan gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan juga bisa terjadi pada saat tidur, dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderitanya sering merasa mengantuk.

Ortopedik. Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut, dan pergelangan kaki).

(Aryani/CHIC)

Obesitas Ditentukan dari Ukuran Lingkar Pinggang

KOMPAS.com – Umumnya berat badan ideal seseorang tercapai di masa remaja, dan perlahan akan bertambah sejalan bertambahnya usia. Fakta lain yang agak menyebalkan, karena tubuh ternyata mampu menyimpan lemak dalam jumlah tidak terbatas. Jadi, seberapa banyak pun lemak yang masuk, tubuh siap menampung. Lemak yang berlebih, biasanya menumpuk di sekitar perut. So pasti, bukan pemandangan yang mengasyikkan.

“Kenaikan berat badan terjadi bila kita mengonsumsi lebih banyak kalori daripada jumlah yang dibutuhkan setiap hari. Kelebihan kalori inilah yang tersimpan dalam tubuh dan menjadi lemak,” kata dr Samuel Oentoro, selaku ahli gizi klinik.

Menurutnya, faktor pemicu kegemukan adalah faktor genetik atau keturunan. Selain itu, faktor lingkungan pun memberi pengaruh bagi kegemukan, ini menyangkut perilaku dan pola gaya hidup. Dan faktor psikis juga ikut ambil bagian. “Misalnya orang yang sedang mengalami stres dan melampiaskan emosi dengan makan tanpa batas,” tambahnya.

Cara mengukur
Jumlah lemak tubuh yang normal untuk pria dewasa berkisar 10-20% dari berat badannya, dan untuk perempuan dewasa sekitar 25%. Untuk mengetahui dengan cepat apakah Anda menyimpan lemak berlebih, cobalah mencubit daging di perut Anda tepat di atas pusar. Bila jarak antara ibu jari dengan telunjuk lebih dari 2,5 cm, maka Anda termasuk obesitas.

Atau, untuk menentukan apakah Anda mengalami besar di sekitar perut, ukur lingkar pinggang dengan mencari titik tertinggi di tulang pinggang, lalu ukur lebarnya. Seorang pria yang berlingkar pinggang lebih dari 102 cm (Indonesia 90 cm) dan perempuan lebih dari 88 cm (Indonesia 80 cm), menunjukkan faktor risiko tinggi kena penyakit. Apalagi, bila IMT-nya (Indeks Masa Tubuh) adalah 25 atau lebih.

Di sekitar perut inilah, lokasi dari sebagian besar lemak yang tersimpan pada tubuh. Orang yang besar di bagian pinggang dan perut sering disebut obesitas tipe “apel”, sedangkan pada tipe “pir” lemak berkumpul di bawah pinggang, sekitar pinggul dan paha.

Dengan lemak berkumpul di sekitar pinggang, obesitas tipe “apel” berisiko lebih tinggi terkena hipertensi dan penyakit lainnya seperti diabetes, jantung koroner, dan stroke. Hal ini dimungkinkan karena lemak di rongga perut lebih mudah diuraikan, sehingga menumpuk di arteri.

Lemak yang menumpuk di rongga perut ternyata lebih berbahaya daripada lemak di bagian bokong atau paha. Pasalnya, lemak di perut memiliki sel-sel lemak yang lebih besar, sehingga terjadi penumpukan lemak yang berlebihan di jaringan adiposa, dan akhirnya menghasilkan protein berbahaya.

(Aryani/CHIC)

Advertisements

Written by informasisehat

23/10/2009 at 3:54 am

Posted in tips sehat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: