HIDUP SEHAT

hidup sehat adalah pilihan

Archive for the ‘antioksidan’ Category

MANFAAT COKLAT

leave a comment »

Sejarah Coklat

coklat

coklat

Para ahli botani menyetujui bahwa pohon coklat atau kakao (Theobroma cacao) sudah tumbuh di daerah Amazon dan lembah Orinoko di Amerika Selatan sejak ribuan tahun yang lalu. Bangsa Maya yang pertama kali mengolah pohon coklat. Kebiasaan ini juga dibawa ketika mereka pindah ke dataran Yukatan. Bangsa Aztek kemudian memperkenalkan coklat yang pahit sebagai minuman. Biji coklat dicampur dengan jagung ataupun anggur yang telah difermentasi lalu disajikan pada cangkir yang terbuat dari emas. Kaisar Aztek yang bernama Montezuma memiliki kebiasaan minum coklat lebih dari 50 cangkir coklat per hari.

Penjajah asal Spanyol yang bernama Hernán Cortés (1485-1547) saat menjajah wilayah tersebut pada awalnya tertarik pada cangkir emas dibanding isinya yaitu minuman coklat. Namun dia juga mengamati bahwa bagi Bangsa Aztec, kakao atau biji coklat juga digunakan sebagai uang. Karena itu, ia segera mendirikan beberapa perkebunan coklat. Perkebunan yang disebut sebagai “emas berwarna coklat” ini berkembang dan hasilnya digemari, sehingga Spanyol mengendalikan perdagangan coklat pada abad ke-18. Kemudian coklat diperkenalkan ke daratan Eropa dan dijadikan bahan campuran kue.

Pada pertengahan abad ke-19, Swiss memulai mengembangkan dan memasarkan coklat sebagai makanan ringan. Sehingga coklat yang tadinya hanya sebagai minuman kemudian berkembang menjadi makanan ringan yang dapat mencair di lidah. Swiss juga menjadi terkenal sebagai negara penghasil coklat terbaik.

Kemudian para pengusaha yang cerdas seperti Hershey, Kohler, Lindt, Nestlé, Peter, Suchard, dan Tobler —nama mereka menjadi merk coklat ternama saat ini— membuat kontribusi yang besar untuk industri coklat. Mereka menemukan mesin pengolahan coklat yang lebih efisien maupun menemukan metode pengolahan coklat yang lebih baik.

Coklat untuk Gairah Seks dan Simbol Cinta

manfaat coklat

manfaat coklat

Alasan mengapa banyak orang memberikan coklat untuk orang tersayang adalah karena coklat sering dianggap sebagai makanan cinta. Hal ini disebabkan karena coklat memiliki tekstur yang lembut dan akan lumer secara perlahan saat dikulum dalam mulut. Ini memberikan kesan sensual bagi orang yang memakannya. Selain itu, coklat dapat memberikan efek nyaman, rileks dan dapat meningkatkan gairah seksual.

Rasa nyaman yang ditimbulkan setelah menikmati coklat bukan hanya perasaan saja, karena coklat mengandung ratusan zat yang memungkinkan terjadinya reaksi kimia di otak. Zat-zat inilah yang merangsang aktifnya serotonin di otak yang selanjutnya akan memicu perasaan nyaman seseorang. Selain itu, zat terbanyak yang terkandung dalam coklat adalah theobromine yang dapat menstimulasi jaringan saraf dan jantung yang membuat kita terjaga dan bersemangat. Efek ini juga bisa diperoleh dari kafein pada kopi atau teh. Manfaat lainnya dari theobromine adalah dapat meredakan batuk.

Terkandung pula phenylethylamine yang berfungsi membantu penyerapan dalam otak dan menghasilkan dopamine yang akan menyebabkan perasaan gembira, meningkatkan rasa tertarik dan dapat menimbulkan perasaan jatuh cinta. Itulah alasan lain mengapa coklat sering diberikan sebagai hadiah tanda cinta.

Manfaat Coklat untuk Kesehatan

Coklat dengan kandungan kakao (biji coklat) lebih dari 70% juga memiliki manfaat untuk  kesehatan, karena coklat kaya akan kandungan antioksidan yaitu fenol dan flavonoid. Dengan adanya antioksidan, akan mampu untuk menangkap radikal bebas dalam tubuh. Besarnya kandungan antioksidan ini bahkan 3 kali lebih banyak dari teh hijau, minuman yang selama ini sering dianggap sebagai sumber antioksidan.

Dengan adanya antioksidan, membuat coklat menjadi salah satu minuman kesehatan. Fenol, sebagai antioksidan mampu mengurangi kolesterol pada darah sehingga dapat mengurangi risiko terkena serangan jantung juga berguna untuk mencegah timbulnya kanker dalam tubuh, mencegah terjadinya stroke dan darah tinggi. Selain itu kandungan lemak pada coklat kualitas tinggi terbukti bebas kolesterol dan tidak menyumbat pembuluh darah.

Coklat juga mengandung beberapa vitamin yang berguna bagi tubuh seperti vitamin A, vitamin B1, vitamin C, vitamin D, dan vitamin E. Selain itu, coklat juga mengandung zat maupun nutrisi yang penting untuk tubuh seperti zat besi, kalium dan kalsium. Kakao sendiri merupakan sumber magnesium alami tertinggi. Jika seseorang kekurangan magnesium, dapat menyebabkan  hipertensi, penyakit jantung, diabetes, sakit persendian dan masalah bulanan wanita yaitu pra menstruasi (PMS). Dengan makan coklat akan menambah magnesium dalam asupan gizi harian yang menyebabkan meningkatnya kadar progesteron pada wanita. Hal ini mengurangi efek negatif dari PMS.

coklat untuk kecantikan

Manfaat lain dari coklat adalah untuk kecantikan, karena antioksidan dan katekin yang ada di dalamnya dapat mencegah penuaan dini, maka tidak heran bila saat ini berkembang lulur coklat yang sangat baik untuk kecantikan kulit.

Jenis Cokelat Paling Sehat

Banyak jenis coklat yang tersedia di pasaran. Ada yang harganya mahal, ada pula yang harganya murah. Apa saja perbedaannya? Berikut ini perbandingan jenis coklat dan manfaat masing-masing.

  • Dark Chocolate

dark coklat

dark coklat

Dark Chocolate memiliki kandungan biji coklat (kakao) yang paling tinggi yaitu paling sedikit 70% mengandung kakao. Dark chocolate memiliki kandungan kakao atau biji cokelat terbanyak, tanpa banyak  gula dan tanpa lemak jenuh atau minyak sayur terhidrogenasi (HVO).

  • White Chocolate
coklat putih

coklat putih

Sedangkan white chocolate hanya memiliki 33% kandungan coklat atau kakao, sisanya adalah gula, susu dan vanila. Kandungan gula inilah yang dapat memberikan efek negatif, seperti kerusakan gigi dan penyakit diabetes.

  • Milk Chocolate atau Coklat Susu

Milk chocolate atau coklat susu merupakan campuran kakao dengan susu dan ditambah gula. Coklat jenis ini juga sangat digemari karena rasanya yang nikmat.

coklat susu

coklat susu

.

.

.

.

.

Hati-hati Makan Sembarang Coklat

Kesalahan yang sering dilakukan pada saat memilih coklat adalah memilih coklat “bermerk” yang murah atau sangat murah. Coklat demikian memiliki kandungan kakao (biji coklat) sedikit yaitu rata-rata kurang dari 20%, bahkan ada yang kurang dari 7%. Coklat jenis ini juga memiliki kandungan gula yang tinggi, kandungan lemak jenuh tinggi dan keburukan lainnya seperti minyak sayur terhidrogenasi (HVO) sehingga mengakibatkan kerusakan gigi dan gangguan kesehatan seperti penyakit diabetes.

Produk coklat lainnya yang juga berbahaya dan buruk untuk kesehatan khususnya yang berupa fondant (biasanya digunakan untuk mendekorasi kue) dan praline. Fondant sebenarnya mengandung 100% pemanis dan praline juga sama buruknya.

Sebisa mungkin pilihlah coklat dengan kandungan gula sedikit agar Anda dapat menikmati manfaat besar yang dimiliki coklat. Anda akan merasakan manfaat jika Anda mengkonsumsi cokelat dengan kandungan kakao atau biji coklat yang tinggi. Selamat menikmati coklat Anda!

http://kumpulan.info

Advertisements

Written by informasisehat

12/09/2009 at 6:17 am

Posted in antioksidan

Tagged with

COKLAT BAIK UNTUK JANTUNG DAN SUASANA HATI

leave a comment »

COKLAT BAIK UNTUK JANTUNG DAN SUASANA HATI

coklat

coklat

Kata coklat berasal dari xocoatl (bahasa suku Aztec) yang berarti minuman pahit. Suku Aztec dan Maya di Mexico percaya bahwa Dewa Pertanian telah mengirimkan coklat yang berasal dari surga kepada mereka. Cortes kemudian membawanya ke Spanyol antara tahun 1502-1528, dan oleh orang-orang Spanyol minuman pahit tersebut dicampur gula sehingga rasanya lebih enak. Coklat kemudian menyebar ke Perancis, Belanda dan Inggris. Pada tahun 1765 didirikan pabrik coklat di Massachusetts AS.

Dalam perkembangannya coklat tidak hanya menjadi minuman tetapi juga menjadi snack yang disukai anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Selain rasanya enak, coklat ternyata berkhasiat membuat umur seseorang menjadi lebih panjang. Suatu studi epidemiologis telah dilakukan pada mahasiswa Universitas Harvard yang terdaftar antara tahun 1916-1950. Dengan menggunakan food frequency questionnaire berhasil dikumpulkan informasi tentang kebiasaan makan permen atau coklat pada mahasiswa Universitas Harvard.

Dengan mengontrol aktivitas fisik yang dilakukan, kebiasaan merokok, dan kebiasaan makan ditemukan bahwa mereka yang suka makan permen/coklat umurnya lebih lama satu tahun dibandingkan bukan pemakan. Diduga antioksidan fenol yang terkandung dalam coklat adalah penyebab mengapa mereka bisa berusia lebih panjang. Fenol ini juga banyak ditemukan pada anggur merah yang sudah sangat dikenal sebagai minuman yang baik untuk kesehatan jantung. Coklat mempunyai kemampuan untuk menghambat oksidasi kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, sehingga dapat mencegah risiko penyakit jantung koroner dan kanker.

Selama ini ada pandangan bahwa permen coklat menyebabkan caries pada gigi dan mungkin juga bertanggung jawab terhadap munculnya masalah kegemukan. Tak dapat disangkal lagi bahwa kegemukan adalah salah satu faktor risiko berbagai penyakit degeneratif. Tetapi studi di Universitas Harvard ini menunjukkan bahwa jika Anda mengimbangi konsumsi permen coklat dengan aktivitas fisik yang cukup dan makan dengan menu seimbang, maka dampak negatip permen coklat tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Menurut kepercayaan suku Maya, coklat adalah makanan para dewa. Rasa asli biji coklat sebenarnya pahit akibat kandungan alkaloid, tetapi setelah melalui rekayasa proses dapat dihasilkan coklat sebagai makanan yang disukai oleh siapapun. Biji coklat mengandung lemak 31%, karbohidrat 14% dan protein 9%. Protein coklat kaya akan asam amino triptofan, fenilalanin, dan tyrosin. Meski coklat mengandung lemak tinggi namun relatif tidak mudah tengik karena coklat juga mengandung polifenol (6%) yang berfungsi sebagai antioksidan pencegah ketengikan.

Di Amerika Serikat konsumsi coklat hanya memberikan kontribusi 1% terhadap intake lemak total sebagaimana dinyatakan oleh National Food Consumption Survey (1987-1998). Jumlah ini relatif sedikit khususnya bila dibandingkan dengan kontribusi daging (30%), serealia (22%), dan susu (20%). Lemak pada coklat, sering disebut cocoa butter, sebagian besar tersusun dari lemak jenuh (60%) khususnya stearat. Tetapi lemak coklat adalah lemak nabati yang sama sekali tidak mengandung kolesterol.

Dalam penelitian yang melibatkan subyek manusia, ditemukan bahwa konsumsi lemak coklat menghasilkan kolesterol total dan kolesterol LDL yang lebih rendah dibandingkan konsumsi mentega ataupun lemak sapi. Jadi meski sama-sama mengandung lemak jenuh tetapi ternyata efek kolesterol yang dihasilkan berbeda. Kandungan stearat yang tinggi pada coklat disinyalir menjadi penyebab mengapa lemak coklat tidak sejahat lemak hewan. Telah sejak lama diketahui bahwa stearat adalah asam lemak netral yang tidak akan memicu kolesterol darah. Mengapa? Stearat ternyata dicerna secara lambat oleh tubuh kita dan juga diabsorpsi lebih sedikit.

Sepertiga lemak yang terdapat dalam coklat adalah asam oleat yaitu asam lemak tak jenuh. Asam oleat ini juga dominan ditemukan pada minyak zaitun. Studi epidemiologis pada penduduk Mediterania yang banyak mengkonsumsi asam oleat dari minyak zaitun menyimpulkan efek positip oleat bagi kesehatan jantung.
Sering timbul pertanyaan seberapa banyak kita boleh mengkonsusmi coklat? Tidak ada anjuran gizi yang pasti untuk ini, namun demikian makan coklat 2-3 kali seminggu atau minum susu coklat tiap hari kiranya masih dapat diterima. Prinsip gizi sebenarnya mudah yaitu makanlah segala jenis makanan secara moderat. Masalah gizi umumnya timbul bila kita makan terlalu banyak atau terlalu sedikit.

Makan coklat tidak akan menimbulkan kecanduan, tetapi bagi sebagian orang rasa coklat yang enak mungkin menyebabkan kerinduan untuk mengkonsumsinya kembali. Ini yang disebut chocolate craving. Dampak coklat terhadap perilaku dan suasana hati (mood) terkait erat dengan chocolate craving. Rindu coklat bisa karena aromanya, teksturnya, manis-pahitnya dsb. Hal ini juga sering dikaitkan dengan kandungan phenylethylamine yang adalah suatu substansi mirip amphetanine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak yang kemudian pada gilirannya menghasilkan dopamine. Dampak dopamine adalah muncul perasaan senang dan perbaikan suasana hati. Phenylethylamine juga dianggap mempunyai khasiat aphrodisiac yang memunculkan perasaan seperti orang sedang jatuh cinta (hati berbunga). Konon Raja Montezuma di jaman dahulu selalu mabuk minuman coklat sebelum menggilir harem-haremnya yang berbeda setiap malam.

Katekin adalah antioksidan kuat yang terkandung dalam coklat. Salah satu fungsi antioksidan adalah mencegah penuaan dini yang bisa terjadi karena polusi ataupun radiasi. Katekin juga dijumpai pada teh meski jumlahnya tidak setinggi pada coklat. Orang tua jaman dahulu sering mempraktekkan cuci muka dengan air teh karena dapat membuat kulit muka bercahaya dan awet muda. Seandainya mereka tahu bahwa coklat mengandung katekin lebih tinggi daripada teh, mungkin mereka akan menganjurkan mandi lulur dengan coklat.

Coklat juga mengandung theobromine dan kafein. Kedua substansi ini telah dikenal memberikan efek terjaga bagi yang mengkonsumsinya. Oleh karena itu ketika kita terkantuk-kantuk di bandara atau menunggu antrian panjang, makan coklat cukup manjur untuk membuat kita bergairah kembali.

Produk coklat cukup beraneka ragam. Misalnya, ada coklat susu yang merupakan adonan coklat manis, cocoa butter, gula dan susu. Selain itu ada pula coklat pahit yang merupakan coklat alami dan mengandung 43% padatan coklat. Coklat jenis ini bisa ditemukan pada beberapa produk coklat batangan. Kandungan gizi coklat bisa dilihat pada tabel.

KANDUNGAN GIZI COKLAT PER 100 GRAM

Zat Gizi Coklat Susu Coklat Pahit
Energi (Kal) 381 504
Protein (g) 9 5,5
Lemak (g) 35,9 52,9
Kalsium (mg) 200 98
Fosfor (mg) 200 446
Vit A (SI) 30 60

Belum ada bukti bahwa coklat menimbulkan jerawat. Coklat juga tidak bisa dikatakan sebagai penyebab utama munculnya plaque gigi karena plaque gigi juga bisa timbul pada orang yang mengkonsumsi makanan biasa sehari-hari. Hanya saja coklat perlu diwaspadai, khususnya bagi orang-orang yang rentan menderita batu ginjal. Konsumsi 100 g coklat akan meningkatkan ekskresi oksalat dan kalsium tiga kali lipat. Oleh karena itu kiat sehat yang bisa dianjurkan adalah minumlah banyak air sehabis makan coklat.

http://kolom.pacific.net.id

Written by informasisehat

12/09/2009 at 6:04 am

Orang Sibuk Perlu Suplemen Antioksidan

leave a comment »

Oleh : DR.Ir. Made Astawan, Dosen di Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, IPB

Dampak modernisasi tidak saja terlihat dari kemajuan yang dicapai dunia saat ini, tetapi juga dari berbagai penyakit yang timbul sebagai efek sampingnya. Maka diperlukan suplemen antioksidan.

Ber-lubangnya lapisan ozon menyebabkan radiasi ultra violet dari matahari menembus atmosfir bumi. Akibatnya polusi dari industri yang tak terkendali, pemakaian pestisida, obat-obatan, dan lain-lain menjadi pemicu timbulnya berbagai penyakit di zaman modern ini.

Berbagai penyakit, seperti kanker kulit, diabetes mellitus, gagal ginjal, penyakit kardiovaskuler, katarak, serta penuaan dini, telah diketahui erat kaitannya dengan radikal bebas.

Penuaan dini pun sangat dicemaskan oleh berbagai kalangan. Karena itu tidak aneh jika belakangan ini antioksidan banyak dipakai sebagai ’obat’ awet muda, dengan mempertahankan keremajaan kulit.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa dengan mengkonsumsi antioksidan, maka proses penuaan dapat dihambat walaupun umur tidak dapat diperpanjang. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa antioksidan mempunyai khasiat mencegah timbulnya berbagai penyakit.

Antioksidan adalah senyawa yang dapat melindungi suatu zat tertentu (khususnya yang berlemak) dari serangan oksidasi (termasuk serangan oleh radikal bebas).
Dalam industri makanan, antioksidan telah digunakan sejak tahun 1947 untuk mel-indungi makanan agar terhindar dari terbentuknya rasa dan bau yang tidak dikehendaki (terutama pada makanan yang berlemak), mencegah pemucatan warna akibat teroksidasinya pigmen, serta mempertahankan mutu dan nilai gizi produk.

Mengingat sifat antioksidan yang sangat ampuh untuk mencegah terjadinya proses oksidasi, maka pemakaian antioksi dan belakangan ini semakin berkembang ke arah pengobatan dan penyembuhan berbagai penyakit, termasuk penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas.

Sumber alami
Antioksidan alami bisa bersumber dari zat non-gizi mau-pun zat gizi. Zat non-gizi yang telah dikenal berperan sebagai antioksidan, adalah senyawa polifenol (flavonoid, flavon, flavonol) dan tanin (asam galat, asam elagat).

Senyawa-senya-wa tersebut banyak dijumpai pada sayuran, buah-buahan, tempe, teh hijau, bawang putih, bumbu dan rempah-rempah. Sedangkan zat gizi yang berperan sebagai antioksidan alami adalah vita-min A, E, dan C, riboflavin, karotenoid, seng, mangan, temba-ga dan selenium.

Oleh karena tubuh kita tidak mampu men-sintesis vitamin C, maka kita harus mendapatkannya dari makanan sehari-hari atau dari suplemen vitamin. Vitamin C merupakan antioksidan larut air yang banyak berperan di dalam plasma dan dalam sel. Suplementasi vitamin C juga sering dilakukan untuk mencegah infeksi, keracunan akibat rokok dan alkohol, serta untuk mencegah kanker.

Seperti halnya vitamin C, tubuh manusia juga tidak mam-pu mensintesis vitamin E, sehingga kebutuhan harian harus dipenuhi dari makanan. Vitamin E merupakan antioksidan yang sangat kuat untuk melumpuhkan daya rusak radikal bebas.
Peranan utama vitamin E di dalam tubuh adalah melindungi asam lemak tak jenuh jamak yang terdapat di dalam membran sel, terhadap oksidasi radikal bebas.

Mengingat struk-turnya yang banyak mengandung ikatan rangkap, lemak tak jenuh jamak sangat mudah teroksidasi oleh radikal bebas. Apabila status vitamin E di dalam tubuh kita rendah, maka kerusakan sel akan dengan cepat terjadi, sehingga orang dengan mudah menja-di tua atau menderita berbagai penyakit degeneratif.

Karotenoid (provitamin A) yang belakangan ini banyak digunakan dalam farmasi dan sebagai pewarna makanan alami, juga berperan sebagai antioksidan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa beta-karoten dapat mencegah kanker. Sebaliknya, penelitian lain menunjukkan bahwa beta-karoten justru menstimulir kanker paru-paru pada perokok.

Oleh karena itu, sebaiknya, kebiasaan merokok dihentikan, karena dapat mengabaikan peranan penting dari beta-karoten. Walaupun aktivitas antioksidan vitamin A tidak sebaik pada beta-karoten, tetapi peranannya cukup penting bagi kesehatan.

Beberapa mineral (seng, tembaga dan selenium) telah terbukti mempunyai peranan sebagai antioksidan atau meningkatkan aktivitas antioksidan suatu zat tertentu. Oleh karena itu mengkonsumsi bahan-bahan pangan sumber mineral tersebut sangat penting dalam pola makan sehari-hari.

Para peneliti dari Universitas Arizona, Tuscon, menemukan bahwa tambahan selenium sebanyak 200 mikrogram setiap hari terbukti mampu mengurangi risiko terkena kanker paru, kanker usus besar dan kanker prostat, sampai 37 persen. Penelitian yang sama juga menunjukkan, laju kematian akibat tiga jenis kanker tersebut menurun hingga 50 persen.

Antioksidan dalam tubuh
Meluasnya gejala dampak negatif dari radikal bebas, dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, merupakan fenomena yang telah dimanfaatkan dengan baik oleh para produsen obat.

Akhir-akhir ini gencar dipromosikan ber-bagai suplemen makanan yang mengandung vitamin dan mineral untuk menghentikan reaksi berantai radikal bebas. Suplemen antioksidan ini sekarang dengan mudah kita jumpai di apotek atau toko-toko obat, dengan berbagai bentuk, merk, kemasan dan harga.  Bagaimana kita sebagai konsumen menyikapi hal ini?

Setiap organisme mempunyai sistem pertahanan secara alami untuk menjinakkan radikal bebas. Di dalam tubuh, ter-bentuknya radikal bebas yang bersifat sebagai prooksidan (pe-macu oksidasi) selalu diimbangi dengan terbentuknya antioksi-dan (penangkal oksidasi).

Untuk melawan daya oksidatif radi-kal bebas yang merusak sistem biologis, sel-sel tubuh kita telah dibekali dengan sejumlah molekul antioksidan, seperti: glutation, vitamin C, vitamin E, karotenoid, selenium, dan lain-lain.

Di dalam tubuh setiap organisme juga terdapat se-jumlah enzim yang bertindak sebagai penangkal radikal bebas, yaitu: superoksida dismutase (SOD), katalase, dan glutation peroksidase.

Dalam keadaan sehat, jumlah antioksidan di dalam tubuh dapat mengimbangi radikal bebas. Dalam keadaan tertentu ke-seimbangan tersebut dapat terganggu. Keadaan inilah yang disebut dengan stres oksidatif. Keadaan stres oksidatif ini mendasari terjadinya berbagai penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas, seperti penyakit jantung koroner, berbagai kanker dan penyakit degeneratif lainnya.

Suplemen antioksidan
Antioksidan komersial yang banyak diperjualbelikan saat ini, umumnya merupakan kombinasi dari beberapa vitamin dan mineral, yaitu vitamin A dan beta-karoten (prekursor vitamin A), vitamin C (asam askorbat), vitamin E (tokoferol), vitamin B2, vitamin B6, glutation, selenium, seng dan tembaga.

Zat-zat tersebut telah terbukti secara ilmiah bersifat sebagai antioksidan. Walaupun zat-zat tersebut merupakan zat sintetis, tetapi fungsinya hampir sama dengan zat sejenis yang di-peroleh secara alami dari makanan sehari-hari.

Dengan demikian, perlukah kita mengkonsumsi suplemen antioksidan ?  Jawaban atas pertanyaan ini, saangat tergantung kepada keadaan kita masing-masing.
Apabila yakin bahwa dalam keseharian kita telah menerapkan pola menu seimbang dan pola hidup sehat (aktivitas fisik dan istirahat yang cukup dan teratur), maka secara alami tubuh telah cukup mendapatkan antioksidan dari makanan yang kita makan. Sehingga tidak perlu mengkonsumsi suplemen antioksidan.

Konsumsi suplemen antioksidan dalam keadaan seperti ini, hanya merupakan tinda-kan pemborosan.  Selain tubuh tidak membutuhkannya, juga harganya cukup mahal. Patut diteladani apa yang telah dilakukan oleh bapak kedokteran dunia, Hipocrates. Dalam metode penyembuhan berbagai penyakit, ia selalu mengutamakan pen-goptimalan makanan lebih dahulu, baru kemudian dengan obat-obatan.

Dalam keadaan tertentu, seperti: meningkatnya usia, sakit, stres, bekerja keras yang melebihi takaran biasanya, bepergian jauh, berolahraga berat, atau kegiatan yang sangat menguras tenaga fisik dan mental, perokok berat atau pada peminum alkohol, serta yang makanannya banyak mengandung lemak, maka keseimbangan di dalam tubuh dapat saja terganggu.

Dalam kondisi seperti ini, kesehatan akan menjadi lemah. Konsumsi harian makanan kita, bisa saja tidak mencukupi kebutuhan gizi yang meningkat, sehingga diperlukan suplemen.

Pada orang yang telah lanjut usia (lansia), selera makan ser-ing sekali menurun dan efisiensi penyerapan zat-zat gizi dari makanan juga sangat menurun. Apabila kondisi ini dibiarkan, akan menjurus kepada terjadinya defisiensi beberapa zat gizi. Oleh karena itu, kelompok lansia sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen antioksidan.

Begitu juga pada orang yang sedang hamil dan menyusui, yang mengalami gangguan selera makan. Suplemen antioksidan bisa ditambahkan dalam menu harian untuk mengimbangi kebutuhan zat gizi yang kian meningkat.

Beberapa orang tertentu yang hidup dalam lingkungan yang tidak sehat dan tercemar oleh berbagai polusi, seperti: polusi industri, knalpot kendaraan bermotor, asap rokok, udara dari AC yang tidak terawat, pestisida, atau banyak terpapar radiasi ultra violet dari matahari, mungkin sekali perlu tambahan suplemen antioksidan. Semua sumber polusi tersebut menyebabkan timbulnya radikal bebas, yang apabila tidak diatasi akan mencetuskan berbagai penyakit kanker.

Perlu takaran yang tepat
Walaupun kadang-kadang kita membutuhkan suplemen antioksidan, konsumsinya harus dilakukan dengan dosis yang tepat. Rasa takut yang berlebihan terhadap dampak negatif radikal bebas, dan keinginan yang menggebu untuk segera memperoleh manfaat yang diinginkan, sering mendorong seseorang untuk mengkonsumsi suplemen secara berlebihan. Apa pun yang dikon-sumsi tubuh dalam takaran yang berlebihan, bisa berdampak negatif bagi kesehatan.

Anjuran konsumsi vitamin C adalah 60 miligram per hari untuk orang dewasa.  Untuk perokok dianjurkan meningkatkan konsum-sinya hingga mencapai 100 miligram per hari.  Untuk wanita hamil dan menyusui dianjurkan mengkonsumsi vitamin C, masing-masing 10 miligram dan 35 miligram lebih banyak dari kebutuhan normalnya per hari.

Vitamin C bersifat larut di dalam air, maka kelebihan konsumsi vitamin ini akan segera dibuang melalui urin. Konsumsi berlebih sebaiknya dihindari, karena selain memboroskan uang (biasanya diperoleh dari suplemen vitamin) juga dapat berdampak negatif bagi tubuh.

Konsumsi vitamin C lebih dari 1000 miligram per hari akan menimbulkan diare, serta me-nurunkan kemampuan tubuh untuk menggunakan zat gizi lain (seperti tembaga dan vitamin B12). Bahkan kelebihan vitamin C secara terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal dan sakit perut. Konsumsi vitamin E yang dianjurkan untuk hidup sehat, adalah sekitar 10 miligram per hari. Vitamin E merupakan antioksidan larut lemak, yang terdapat pada membran sel.

Kebutuhan vitamin E bervariasi, sesuai dengan kualitas asam lemak yang dikonsumsi. Pada orang yang banyak mengkonsumsi asam lemak omega-3 (seperti minyak ikan atau skualen), perlu tambahan konsumsi vitamin E yang cukup.

Konsumsi omega-3 berlebih, tanpa diimbangi dengan konsumsi antioksidan, akan menyebabkan terbentuknya radikal bebas. Hal ini terjadi karena asam lemak omega-3 mengandung banyak asam lemak tidak jenuh yang sangat mudah teroksidasi.

Selenium merupakan mineral trace element yang sangat besar peranannya sebagai antioksidan. Jumlah yang direkomendasikan untuk dikonsumsi adalah 70 mikrogram per hari untuk laki-laki dan 55 mikrogram untuk wanita. Konsumsi selenium lebih dari 350 mikrogram bisa mematikan dan menyebabkan kebotakan, kelelahan, dan rontoknya gigi maupun kuku.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa antioksidan sangat dibutuhkan untuk menangkal serangan radikal bebas. Antioksidan dapat diperoleh secara alami dari makanan sehari-hari atau dari suplemen. Walaupun demikian antioksidan tidak perlu dikonsumsi dalam jumlah berlebih, karena dapat menimbulkan efek negatif. @

http://64.203.71.11/ver1/Kesehatan/0712/28/111820.htm

Written by informasisehat

07/05/2009 at 12:12 am

Peranan Anti Oksidan pada Usia Lanjut

leave a comment »

Tanpa disadari dalam tubuh kita secara terus-menerus terbentuk radikal bebas melalui peristiwa metabolisme sel normal, peradangan, kekurangan gizi dan akibat respons terhadap pengaruh dari luar tubuh: polusi lingkungan, ultraviolet, asap rokok, dll. Sebab itu tubuh kita memerlukan suatu substansi penting yakni antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dengan meredam dampak negatif senyawa ini.

Pengurangan asupan kalori berarti mengurangi radikal bebas. Radikal bebas bersifat merusak sel dan berperan dalam proses penuaan dan terjadinya penyakit degeneratif seperti kanker dan gangguan kardiovaskular.

Supaya radikal bebas tidak merajalela, tubuh dengan sendirinya spontan memproduksi zat antioksidan. Antioksidan yang diproduksi oleh tubuh (endogen) adalah SOD (Superoxide Dismutase), GPx (Glutathion Peroxidase), katalase dan senyawa glutation. Antioksidan tersebut bekerja denagn cara menetralkan radikal bebas, dimana pekerjaannya dibantu oleh asupan antioksidan dari luar (eksogen), yaitu vitamin E, C, betakaroten dan senyawa flavonoid yang berasal dari tumbuhan. Sehingga diharapkan dengan pemberian antioksidan tersebut proses tua dihambat atau paling tidak ”tidak dipercepat”, serta dapat mencegah terjadinya kerusakan tubuh dan timbulnya penyakit degeneratif.

Pada masa tua, dapat dilakukan peningkatan kualitas hidup dengan cara tetap sehat. Dengan tetap sehat dalam jangka waktu sepanjang mungkin, maka kualitas hidup juga akan terjaga. Maka timbullah suatu konsep yang dinamakan Healthy Aging yang dicetuskan pertama kali oleh Takemi (1997).

Salah satu cara untuk menunjang healthy aging ini kita bisa memanfaatkan tumbuhan dan buah-buahan alami yang mengandung antioksidan dan berada disekitar kita, karena Indonesia kaya akan bahan alami yang mengandung antioksidan yang berpotensi tinggi.

Berikut beberapa makanan yang kaya akan antioksidan dan mudah ditemukan :

Tempe
Tempe mempunyai khasiat antara lain mempercepat berhentinya diare akut dan meningkatkan berat badan serta status gizi, hal ini mengutungkan karena selain banyak lansia yang mengalami gangguan pencernaan seperti diare akut dan kronis juga sering mengalami status gizi yang buruk karena asupan protein yang kurang adekuat, juga dapat mengurangi kadar kolesterol darah, selain itu tempe juga tepat untuk diberikan bagi pasien dengan DM yang biasanya dialami oleh lansia.

Brokoli
Brokoli adalah salah satu sumber vitamin K yang baik. Mengkonsumsi brokoli dapat membantu menjaga agar tulang tetap sehat.

Buncis
Menurut riset yang dilakukan Departemen Pertanian Amerika Serikat, kulit buncis mengandung senyawa flavonoid, yaitu suatu antioksidan yang melidungi tubuh dari penyakit kronis dan efek penuaan.

Jeruk
Jeruk adalah suatu sumber viatmin C terbaik. Vitamin C dikenal sebagai antioksidan yang berperan melawan gejala penuaan dan penyakit yang berhubungan dengan usia.

Apel
Apel yang belum dikupas mempunyai efek anti karsinoma terkuat, karena mengandung lebih banyak antioksidan fitokimiawi.

Wortel rebus
Wortel mengandung vitamin A dan vitamin C yang merupakan salah satu antioksidan terbaik untuk melindungi tubuh dari radikal bebas.

Teh
Antioksidan dalam teh sangat terkenal sebagai salah satu penyebab panjang umur di Negara Jepang dan China

Penemuan terbaru antioksidan :

L-Carnosine
L-Carnosine adalah antioksidan untuk anti penuaan, dengan memperbaiki perubahan yang diakibatkan proses degeneratif seperti kulit, otak, jantung dan jaringan tubuh lainnya. Setidaknya L-Carnosine harus diberikan sebanyak 500 mg perhari dalam waktu jangka lama. L-Carnosine secara alamiah terdapat pada tubuh kita (terutama diotot) dan banyak terdapat juga pada makanan. Tetapi kadarnya berkurang seiring dengan bertambahnya usia.

Actin
DR. Debasis Bagchi, kepala ilmuwan dari Creighton University mengatakan bahwa daripada vitamin C dan E serta betakaroten, Actin lebih baik sebagai pencegah radikal bebas dan fragmentasi DNA.

N-Acetylcysteine (NAC)
NAC merupakan antioksidan yang baik dalam mempertahankan imunitas / kekebalan tubuh.

Alfa-Lipoid Acid
Alfa-Lipoid Acid dapat larut dalam lemak dan air, artinya zat ini dapat masuk kedalam semua bagian tubuh manusia yang terdiri dari cairan dan lemak.

Pycogenol
Menurut Dr. Richard Passwater pycogenol bermanfaat untuk ; fungsi otak, mencegah aterosklerois, stres, kanker kulit, arthritis, penglihatan, diabetes.

Fakta yang perlu diketahui adalah bahwa hingga saat ini para ahli masih sulit memastikan berapa komposisi yang seimbang antara radikal bebas dan antioksidan didalam tubuh. Dengan demikian, dosis suplemen antioksidan yang tepat belum dapat dipastikan. Sementara beberapa penelitian menunjukan bahwa kelebihan antioksidan justru akan merugikan.

Umumnya lansia terpengaruh untuk mengkonsumsi suplemen gizi karena pengaruh iklan. Hasil survey di California mengungkapkan bahwa 72 % lansia mengkonsumsi suplemen gizi vitamin C dan vitamin E dosis tinggi.

Sebagai pertimbangan, beberapa suplemen yang dianjurkan bagi lansia diantaranya:

Vitamin E
Dikenal sebagai antioksidan, mencegah kerusakan karena radikal bebas dan menurunkan resiko penyakit jantung.

Selenium
Membantu tugas enzim glutation, yaitu enzim pengusir radikal bebas. Merupakan komponen penting bersama vitamin C dalam memerangi penyakit jantung juga kanker.

Seng
Berfungsi sebagai penghasil antibody, juga sebagai anti oksidan.

Beta Karoten
Mencegah terjadinya katarak.

Omega 3
Dapat mencegah kerusakan sel otak sekaligus mempertajam daya ingat, mengencerkan darah, mengurangi resiko penyakit jantung dan stroke.

Vitamin C
Membantu pembentukan kolage, meningkatkan daya tahan tubuh serta membantu pembentukan glikoaminoglikan dan chondoitin untuk persendian.

Fe
Mencegah anemia.

Sebenarnya selama asupan makanan cukup baik dan menjauhi pola hidup tidak sehat, suplemen makanan seperti multivitamin sama sekali tidak diperlukan.

http://www.smallcrab.com

Written by informasisehat

07/05/2009 at 12:11 am

Posted in antioksidan

Tagged with

Antioksidan Memerangi Radikal Bebas

leave a comment »

Antioksidan Memerangi Radikal Bebas

Ada banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan manusia. Salah satunya, keseimbangan antara kadar antioksidan dan radikal bebas di dalam tubuh. Namun, menurut Journal of the American Medical Association (JAMA), sebuah penerbitan kedokteran yang paling berpengaruh di Amerika Serikat, sebagian besar manusia tidak mendapatkan asupan antioksidan yang cukup dari makanan yang mereka konsumsi setiap hari.

Radikal bebas adalah molekul-molekul yang menimbulkan penyakit pada manusia. Sedangkan antioksidan adalah unsur yang memerangi radikal bebas.

“Radikal bebas dapat merusak biomolekul penting di dalam tubuh. Hal ini merupakan penyebab utama dari penyakit-penyakit fatal, seperti penyakit jantung, kanker, dan lainnya,” demikian dikatakan Wakil Presiden Global Research and Development Pharmanex Carsten Smidt PhD FACN, pada acara jumpa pers yang membahas masalah antioksidan di Jakarta, baru-baru ini.

“Polusi udara, asap rokok, alkohol, emisi kendaraan bermotor, dan sinar ultraviolet yang berlebihan, adalah faktor-faktor eksternal yang memacu pertumbuhan radikal bebas di dalam tubuh manusia. Itulah sebabnya, suplemen antioksidan sangat dibutuhkan dan penting bagi kesehatan manusia saat ini, ” kata Smidt.

Bagi mereka yang merokok, katanya, satu batang rokok menghasilkan sangat banyak radikal bebas. Suatu angka yang sangat besar jumlahnya dan menunjukkan betapa bahayanya rokok bagi kesehatan manusia.

Apalagi bila ditambah dengan polusi udara, alkohol, dan lainnya yang memacu pertumbuhan radikal bebas.

Dijelaskan lagi, antioksidan memberikan perlindungan kepada tubuh dari ancaman radikal bebas dan berfungsi untuk menetralisasi atau melawan radikal bebas. Lebih dari 30.000 penelitian telah dilakukan, yang hasilnya menunjukkan bahwa antioksidan membantu menyehatkan tubuh manusia, di antaranya memperkuat fungsi kardiovaskular, mata, sistem saraf pusat, kulit, dan banyak lagi. Antioksidan juga dapat memperlambat proses penuaan seseorang.

Berbagai hal itu yang membuat Pharmanex memperkenalkan produk barunya yang diberi nama Tegreen97, yang berisi kandungan antioksidan tinggi untuk memenuhi kebutuhan tubuh manusia.

Tegreen97 merupakan hasil eksperimen dan riset ilmiah yang dilakukan 125 ilmuwan Pharmanex.

Produk ini mengandung polyphenol sebesar 97 persen. Polyphenol adalah sebuah kandungan aktif dalam teh hijau yang merupakan antioksidan paling efektif. Tak heran bila setiap kapsul dinilai setara dengan enam sampai delapan cangkir teh hijau.

“Kami sarankan orang dewasa yang sering terpapar sinar ultraviolet dari matahari serta terkena polusi udara dan asap rokok, untuk mengonsumsi Tegreen 97,” ujar Smidt. (B-8)

Sumber:
http://www.suarapembaruan.com/News/2006/01/17/index.html

Written by informasisehat

07/05/2009 at 12:10 am

Posted in antioksidan

Tagged with ,

Antioksidan, Radikal Bebas, dan Penuaan

leave a comment »


BAGI Waljinah (57), penyanyi keroncong tembang Jawa, keriput mulai muncul masa usia tua bukanlah sesuatu perlu diresahkan. Kerut-kerut di kulitnya justru penanda kesemarakan hidup yang pernah dilaluinya. Tak heran, meski telah bercucu enam, nenek ini tetap berparas segar. “Resepnya, ya selalu gembira, nrimo ing pandum (penuh rasa syukur), dan mungkin karena sejak gadis rajin minum jamu,” tutur Waljinah.

SEPERTI dimaknai Waljinah, menjadi tua adalah takdir, hukum alam yang tak dapat ditepis. Ketika kehidupan itu dimulai meski ia baru berupa noktah sel embrio, proses penuaan pun serta-merta berlangsung. Namun, kini para ahli dengan segala kecanggihan penemuannya berteori, proses takdir itu dapat diperlambat. Tersebutlah sebuah zat bernama antioksidan. Lalu, seberapa jauh sebenarnya peran si antioksidan itu?

Antioksidan merupakan zat yang anti terhadap zat lain yang bekerja sebagai oksidan. Zat lain itu populer disebut radikal bebas, yaitu suatu molekul oksigen dengan atom yang pada orbit terluarnya memiliki elektron yang tidak berpasangan. Karena kehilangan pasangannya itu, molekul lalu menjadi tidak stabil, liar, dan radikal.

“Akibatnya, ia selalu berusaha mencari pasangan elektron, tetapi dengan cara yang radikal, yaitu merebut elektron dari molekul lain tanpa pandang bulu. Makanya ia disebut radikal bebas atau reactive oxygen species (ROS),” kata ahli Biokimia Dr Mohamad Sadikin DSc dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Perbuatan si radikal bebas ini berakibat destruktif bagi molekul sel lain yang elektronnya dirampas. Parahnya, aksi perampasan elektron itu menimbulkan reaksi berantai sehingga radikal bebas terlahir semakin banyak. Radikal bebas merusak molekul makro pembentuk sel, yaitu protein, karbohidrat (polisakarida), lemak, dan deoxyribo nucleic acid (DNA).

Akibatnya, sel menjadi rusak, mati, atau bermutasi. Peristiwa itu menjadi salah satu penyebab berbagai penyakit degeneratif seperti kanker dan penuaan sel. Pada sel kulit, misalnya, radikal bebas akan merusak senyawa lemak pada membran sel. Lalu, kulit kehilangan ketegangannya (rigor) dan muncullah keriput.

Sadikin menjelaskan, peran jahat radikal bebas ini bukan berarti ia boleh dienyahkan. Sebab, akhirnya para ahli menemukan, radikal bebas dalam kadar tertentu justru diperlukan untuk pertahanan tubuh. Ketika kuman masuk ke dalam tubuh, sel darah putih (lekosit) akan menghancurkan dan memakan kuman dengan bantuan si radikal bebas.

“Seperti filosofi Yin dan Yang. Dalam keburukan si radikal bebas, ada setitik kebaikan yang sangat esensial,” kata Sadikin. Masih berprinsip pada keseimbangan Yin dan Yang, keseimbangan komposisi antara radikal bebas dan antioksidan mutlak diperlukan di dalam tubuh.

Bagaimana bisa muncul radikal bebas ini? Radikal bebas muncul sebagai konsekuensi dari adanya kehidupan itu sendiri. Setiap makhluk hidup perlu energi untuk bertahan hidup. Makhluk hidup, termasuk manusia, akan selalu memproduksi radikal bebas sebagai produk samping dari proses pembentukan energi.

Energi itu diperoleh dari proses metabolisme dengan mengoksidasi (membakar) zat-zat makanan, seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Zat-zat itu akan dikonversi menjadi senyawa pengikat energi atau Adenosin Triphospat (ATP) melalui proses metabolisme dengan bantuan oksigen. Dalam proses oksidasi itulah radikal bebas (ROS), yaitu anion superoksida dan hidroksil radikal turut terproduksi.

Selain lahir dari proses metabolisme, radikal bebas juga muncul pada setiap kejadian pembakaran, misalnya merokok, memasak, juga aktivitas pembakaran bahan bakar pada mesin dan kendaraan bermotor. Ketika sinar ultraviolet menerpa suatu benda terus-menerus, elektron atom benda tersebut akan meloncat dari orbitnya, dan terciptalah radikal bebas.

Singkatnya, radikal bebas akan selalu bertebaran di mana-mana. Api adalah radikal bebas yang dapat dilihat dengan mata. Layaknya radikal bebas, sifat api pun sangat reaktif dan sulit dikendalikan jika merajalela.

Supaya radikal bebas tidak merajalela, tubuh dengan sendirinya spontan memproduksi zat antioksidannya. Antioksidan yang diproduksi dari dalam tubuh (endogen) berupa tiga enzim yaitu, superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase (GSH Px), katalase, serta non enzim, yaitu senyawa protein kecil glutation.

Ketiga enzim dan senyawa glutation itu bekerja menetralkan radikal bebas. Pekerjaannya itu dibantu oleh asupan antioksidan dari luar (eksogen) yang berasal dari bahan makanan. Misalnya, vitamin E, C, betakaroten dan senyawa flavonoid yang diperoleh dari tumbuhan.

Ahli gizi dari Pusat Kajian Gizi Fakultas Kedokteran UI dr Victor Tambunan MS menjelaskan, dalam proses melumpuhkan radikal bebas, peran antioksidan eksogen sangat sistematis. Pertama-tama vitamin E akan menangkap (scavenging) radikal bebas. Malangnya, vitamin E itu lalu berubah menjadi vitamin E radikal sehingga perlu pertolongan vitamin C.

Apa boleh buat, setelah menangkap vitamin E radikal, si vitamin C malah ikut menjadi vitamin C radikal juga. Akhirnya, barulah glutation yang mampu menetralkan vitamin C radikal menjadi senyawa yang lebih kalem tanpa menjadikan dirinya turut radikal.

LALU, perlukah kita menambah suplemen antioksidan untuk mengatasi keliaran si radikal bebas? Jawaban akhirnya akan normatif. Suplemen antioksidan yang populer di pasaran, yaitu vitamin C, E, dan betakaroten. Namun, fakta perlu diketahui, hingga saat ini para ahli masih sulit memastikan berapa komposisi yang seimbang antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh.

Dengan demikian, otomatis dosis suplemen antioksidan yang tepat juga belum dapat dipastikan. Sementara beberapa studi menunjukkan, kelebihan antioksidan justru merugikan hingga membahayakan

Tambunan menjelaskan, selama asupan makanan cukup baik dan menjauhi pola hidup tak sehat, suplemen makanan seperti multivitamin sama sekali tidak dibutuhkan. Suplemen dibutuhkan hanya ketika seseorang menderita luka bakar serius, infeksi yang luas, aktivitas fisik berat, atau stres yang hebat.

Orang yang merokok atau, pekerjaannya harus diterpa polusi dan sinar matahari terus- menerus, seperti polisi lalu lintas, juga memerlukan suplemen tersebut. Asumsinya, asupan makanan yang bervitamin antioksidan tidak cukup dibandingkan terpaan radikal bebas. Dengan demikian, tubuh orang itu dalam kondisi stres oksidatif atau komposisi radikal bebasnya lebih banyak.

Menurut Tambunan, suplemen yang paling utama dibutuhkan orang-orang tersebut adalah vitamin C dengan dosis antara 100-500 miligram per hari. Soal dosis memang masih kontroversi. Sebab, jika vitamin C yang diasup ternyata berlebihan bagi tubuh, vitamin C tersebut justru menjadi vitamin C radikal yang sifatnya sama dengan radikal bebas. Glutation tidak lagi sempat menetralkannya karena jumlahnya yang berlebihan. Memang, sebagian yang berlebih itu dapat larut bersama urine, tetapi potensi radikal tetap ada.

Hal yang sama berlaku pada vitamin E, yang jika berlebihan dapat menjadi vitamin E radikal. Ada pula teori yang mengatakan, kelebihan vitamin E dapat mengganggu proses pembekuan darah jika terjadi luka. Selain itu, vitamin E akan terakumulasi di jaringan tubuh yang mengandung lemak seperti liver dan berpotensi meracuni liver.

Tambunan menuturkan, suatu penelitian antioksidan di Amerika Serikat dilakukan pada orang-orang yang merokok dan sekaligus menderita kanker paru. Sebagian dari mereka diberi suplemen betakaroten dosis tinggi, sebagian yang lain diberi plasebo (pil kosong). Dugaan awal, kelompok yang diberi betakaroten sel kankernya dapat terkendali. Yang terjadi cukup mengejutkan, kelompok yang diberi betakaroten justru menunjukkan perkembangan sel kanker. “Pemberian betakaroten itu lantas segera dihentikan,” tutur Tambunan.

Selama ini di pasaran suplemen vitamin E dan C umumnya dijual dalam dosis relatif tinggi per tabletnya, bahkan beberapa merek vitamin C berdosis hingga 1.000 mg per tablet. Padahal, menurut Tambunan, kecukupan gizi vitamin C per hari hanya 60 mg. Untuk vitamin E, cukup 8-10 IU per hari. Tambunan menambahkan, kadar tersebut cukup terpenuhi dari bahan makanan sehari-hari. Vitamin C, misalnya, banyak terkandung dalam jambu klutuk, jeruk, atau kiwi. Vitamin E bisa diperoleh dari sayur-sayuran seperti kecambah, kedelai, atau kuning telur.

Dengan demikian, orang di luar kondisi yang berpotensi stres oksidatif praktis tidak dianjurkan mengonsumsi suplemen antioksidan. Sebaliknya, sangat dianjurkan berusaha mengonsumsi makanan cukup gizi, sebab asupan antioksidan dari makanan sangat kecil risiko berlebihan. Memang klasik, tetapi empat sehat lima sempurna memang jawabannya.

Tambunan menyarankan, konsumen harus pandai mengukur kondisi fisiknya sendiri. Suplemen baru dianjurkan ketika tubuh mendapat beban fisik yang cukup berat, atau terpaksa berada di kondisi yang sangat terpolusi. Artinya, mengonsumsi suplemen tidak dianjurkan setiap hari, melainkan tergantung pada kondisi yang dihadapi seseorang.

PENYANYI keroncong Waljinah pun rupanya cukup bijak dalam mengonsumsi suplemen vitamin. Ketika harus menembang hingga dini hari pada pagelaran wayang kulit, barulah dia meminum vitamin C setelah menyantap makan malamnya. “Kalau tiap hari, saya lebih memilih minum wedang jahe dan kencur saja sudah cukup. Namanya wanita Jawa, ya minum jamu,” kata Waljinah.

Baik Tambunan maupun Sadikin mengingatkan, suplemen makanan seperti multivitamin dan mineral sama sekali bukan sumber energi seperti yang ditonjolkan oleh berbagai iklan. “Itu pembodohan massa. Sumber energi hanyalah karbohidrat, protein, dan lemak. Vitamin dan mineral hanya semacam oli pelincir pada mobil. Ia melancarkan proses pembentukan energi,” papar Sadikin.

Oleh karena itu, Tambunan menegaskan, mengonsumsi multivitamin dan mineral dalam dosis tinggi tanpa makanan yang baik merupakan kemubaziran dan justru dapat membahayakan. Glutation, sebagai antioksidan endogen, eksistensinya di dalam tubuh sangat tergantung pada asupan zat-zat makanan, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Tanpa glutation, proses penyeimbangan radikal bebas di dalam tubuh bisa kacau-balau.

Selama ini suplemen antioksidan sering kali mengklaim bahwa antioksidan adalah senjata ampuh menghambat kerja radikal bebas yang menyebabkan penuaan sel, salah satunya sel kulit.

Padahal, menurut ahli kulit sekaligus Ketua Studi Dermatologi dan Kosmetika Indonesia dr Sjarif M Wasitaatmadja Sp KK, penuaan tidak hanya disebabkan oleh aktivitas radikal bebas. Faktor lain yang berpengaruh adalah faktor genetika, usia, dan gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, minum alkohol, dan kurang istirahat.

Sjarif menjelaskan, berhubung dosis suplemen vitamin antioksidan secara oral masih kontroversi, pemberian vitamin antioksidan lebih aman secara topikal (pengolesan di kulit) yang berdosis cukup rendah. Terapi itu hanya dapat menghambat penuaan dini akibat radikal bebas yang dihasilkan dari polusi. Sementara faktor lain penyebab penuaan, seperti genetik dan usia, tidak dapat dicegah. Penuaan tetaplah takdir.

Sjarif menegaskan, mengatasi penuaan dini bukanlah dengan merekomendasikan suplemen antioksidan. Namun, menganjurkan supaya seseorang hidup sehat dan menjauhi stres. Sebab, stres itu sendiri memicu produksi hormon-hormon tertentu seperti adrenalin, yang jika berlebih dapat merugikan. Selain itu, kondisi stres juga akan memicu munculnya senyawa fitokin berlebihan yang dapat merusak sel.

“Jangan mencari pembenaran, oke kamu boleh ngerokok, nih saya beri antioksidan. Tapi, hey stoplah merokok, makan yang sehat kalau mau awet muda. Jangan stres, nikmatilah menjadi tua,” ujar Sjarif.

Boleh jadi nasihat Waljinah memang tepat. Resep awet muda justru dimulai dari pikiran yang positif dan hati yang riang. Jadi, keriput? Siapa takut!(B14)

http://www2.kompas.com

Written by informasisehat

07/05/2009 at 12:09 am

Posted in antioksidan

Tagged with , ,

Mekanisme Kerja Beberapa Antioksidan

leave a comment »

Mekanisme Kerja Beberapa Antioksidan

Oleh Asta Qauliyah

Contoh antioksidan yaitu vitamin E, vitamin C, kelompok karetonoid (beta karoten, likopen, dan lutein), serta kelompok flavonoid. Sedangkan contoh mineral antioksidan yaitu selenium dan seng. Secara alami, antioksidan dapat diperoleh dari sayur dan buah yang kita konsumsi setiap hari. Namun, bagaimana mekanisme kerjanya?

Vitamin

Vitamin antioksidan yang cukup terkenal adalah vitamin C dan E. Vitamin C mencegah oksidasi pada molekul yang berbasis cairan, misalnya plasma darah dan mata. Sedangkan vitamin E yang larut dalam lemak bekerja pada sel lipid dan sirkulasi kolesterol.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa vitamin E dapat memperlambat gejala Azheimer. Journal of the American Medical Association juga menyatakan bahwa vitamin E dapat mencegah penyakit jantung koroner. Sedangkan menurut Journal Ophtalmology, vitamin E dapat menurunkan risiko terjadinya katarak.

Cara kerja vitamin E sebagai antioksidan adalah dengan menyumbangkan elektron kepada radikal bebas. Karena itu, vitamin E yang kaku akan berubah menjadi vitamin E yang radikal. Untuk menjinakkannya, diperlukan vitamin C yang akhirnya akan membuat vitamin C juga menjadi radikal. Di sinilah, glutation akan muncul untuk menetralkan vitamin C.

Mineral

Jika vitamin C dan E bertindak sebagai antioksidan langsung, mineral sendiri akan berperan sebagai komponen antioksidan tubuh (endogen). Selenium, misalnya, merupakan komponen penting glutation peroksidase. Selenium juga bekerja secara sinergis dengan vitamin E. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet menyatakan bahwa mereka yang kekurangan selenium akan lebih berisiko menderita kanker dibandingkan mereka yang berkecukupan selenium.

Seng (Zn) juga merupakan mineral antioksidan yang cukup penting. Seng akan membantu mencegah oksidasi lemak dan diperlukan oleh tubuh untuk memproduksi antioksidan superoksida dismutase. Keberadaan seng dibutuhkan juga untuk menjaga kadar vitamin E dalam darah sehingga membran sel darah merah dapat terlindungi dari efek oksidasi mineral lainnya.

Flavonoid dan karotenoid

Zat antioksidan dalam tumbuhan dibedakan menjadi flavonoid yang larut dalam air dan karotenoid yang larut dalam lemak. Flavonoid mampu memperbaiki ketidakseimbangan sistem antioksidan dalam tubuh. Diketahui ada lebih dari 4.000 jenis flavonoid, seperti epigalokatekin dalam teh hijau, isoflavon dalam kedelai, dan lain-lain.

Contoh karotenoid yaitu beta karoten, alfa karoten, likopen, dan lutein. Ada sekitar 700 karetonoid di alam dan sekitar 50 jenisnya dapat diserap oleh tubuh. Beberapa karotenoid dapat berperan sebagai pembentuk (prekursor) vitamin A dan mampu memerangi radikal bebas.

Kombinasi antioksidan

Antioksidan bekerja sebagai sebuah sistem untuk menghentikan kerusakan akibat radikal bebas. Oleh karena itu, para ahli nutrisi menyarankan agar kita sering mengonsumsi produk yang mengandung banyak variasi antioksidan, kombinasi vitamin, mineral, dan zat berkhasiat lainnya.

Meskipun diketahui bersifat baik, antioksidan yang berlebihan juga dapat berbahaya bagi tubuh. Vitamin C yang berlebihan akan berpotensi menjadi vitamin C radikal yang bersifat radikal bebas, sehingga glutation tidak cukup untuk menetralkannya. Selain itu, kelebihan vitamin C (sintetis) akan membuat ginjal bekerja semakin keras.

Begitu juga dengan vitamin E. Sebuah teori menyatakan bahwa kelebihan vitamin E dapat mengganggu proses pembekuan darah. Selain itu, vitamin E juga dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh yang mangandung lemak (misalnya organ hati) dan berpotensi dapat meracuninya.

http://astaqauliyah.com

Written by informasisehat

07/05/2009 at 12:07 am