HIDUP SEHAT

hidup sehat adalah pilihan

Archive for the ‘demam berdarah’ Category

Kemiripan DBD dan Penyakit Lainnya

leave a comment »

Nyamuk

JAKARTA, KOMPAS.com – Ayah seorang penderita demam berdarah dengue (DBD) yang baru saja meninggal sempat bingung. Sebelum meninggal sudah 3 kali anaknya dibawa ke dokter dan 3 kali itu juga mendapat diagnosis yang berbeda. Hari pertama ia didiagnosis infeksi tenggorok, pada hari ketiga setelah cek darah, diagnosis berubah menjadi tifus, dan akhirnya pada hari kelima ia divonis DBD sebagai penyebab kematiannya.

Peritiwa ini sering dialami oleh penderita DBD, karena gejala awalnya mirip dengan banyak penyakit lain. Oleh karena itu, masyarakat dituntut mempunyai pengetahuan yang baik dan kecermatan yang tinggi untuk membedakan DBD dari penyakit lainnya. Sedangkan seorang klinisi atau dokter dituntut kejelian dan pemahamannya tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue; dari proses terjadinya penyakit, ketajaman pengamatan klinis, sampai interpretasi terhadap hasil tes laboratorium yang benar. Keterlambatan diagnosis berakibat keterlambatan penanganan yang berpotensi meningkatkan risiko kematian.

Gejala Bervariasi

Diagnosis penyakit DBD paling sering “tertukar” dengan demam tifoid, faringitis akut (infeksi tenggorok), ensefalitis (infeksi otak), campak, flu atau infeksi sa-luran napas lainnya yang disebabkan virus. Bahkan belakangan ini terdapat beberapa kasus yang awalnya dicurigai flu burung tetapi ternyata penyakit DBD.

Hal ini terjadi karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD sangat bervariasi. Ada yang menimbulkan gejala klinis asimtomatik atau tidak jelas, dan ada pula yang menyebabkan gejala klinis berat. Penderita DBD dapat menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, nyeri tenggorok, nyeri perut, nyeri otot atau tulang, nyeri kepala, diare, kejang atau kesadaran menurun. Gejala ini juga dijumpai pada berbagai penyakit infeksi virus atau infeksi bakteri lainnya yang menyerang tubuh.

Menurut kriteria WHO (World Health Organization) diagnosis DBD hanya dibuat berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium trombosit dan hematokrit. Gejala DB diawali demam tinggi mendadak dalam 2-7 hari (38°C- 40°C) disertai pendarahan berupa bintik perdarahan di kulit, pendarahan selaput putih mata, mimisan, atau berak darah.

Penyakit ini ditandai oleh pembesaran hati, syok atau tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, dan tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah. Pemeriksaan laboratorium juga menunjukkan penurunan trombosit sampai ku-rang dari 100.000/mm+ pada hari ke-3 sampai ke-5 dan me-ningkatnya nilai hematokrit (>40%).

Bila tanda dan gejala di atas sudah cukup jelas, maka pemeriksaan laboratorium lain untuk konfirmasi diagnosis secara umum mungkin tidak diperlukan. Pemeriksaan dengue blot IgG dan IgM, isolasi virus dan pemeriksaan serologi mungkin hanya diperlukan dalam bidang penelitian atau kasus yang sulit. Karena pemeriksaan tersebut sangat mahal dan khususnya pemeriksaan dengue blot sensitivitasnya tidak terlalu tinggi.

Beda Gejaka DBD & Tifus

Kesalahan lain, demam akibat penyakit DBD sering dianggap muncul bersamaan dengan demam akibat tifus. Kesalahan ini sering terjadi karena pemahaman yang kurang baik tentang dasar diagnosis penyakit, perjalanan penyakit, dan interpretasi laboratorium.

Pola demam pada DBD biasa-nya mendadak tinggi, terus-me-nerus tidak pernah turun dalam 2 hari pertama, menurun pada hari ke-3 dan meningkat lagi di hari ke-4 atau ke-5. Sedangkan demam pada penyakit tifus biasa-nya tinggi terutama malam hari.

Pada penderita DBD sering ditemukan juga peningkatan hasil Widal. Pemeriksaan Widal adalah identifikasi antibodi tubuh terha-dap penyakit tifus. Kejadian seperti inilah yang menimbulkan kerancuan diagnosis DBD. Padahal pada minggu awal terjadinya panas, biasanya pada penyakit tifus malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal tersebut.

Jadi, bila hasil pemeriksaan Widal meningkat tinggi pada awal minggu pertama, hal itu tidak harus dicurigai sebagai penyakit tifus. Pada beberapa penelitian terlihat gangguan mekanisme pertahanan tubuh pada penderita hipersensitif atau alergi sering menimbulkan hasil Widal “false positive”. Artinya positif tetapi belum tentu benar mengalami penyakit tifus.

Hal lain yang harus diketahui, antibodi Widal dapat bertahan terus pada penderita selama 6 bulan hingga 2 tahun meskipun penyakit tifusnya sudah membaik. Jadi sebaiknya, pemeriksaan Widal dilakukan menjelang akhir minggu pertama panas atau awal minggu ke dua panas.

Sejauh ini akurasi tes Widal sebagai diagnosis penyakit tifus memang masih banyak memiliki kelemahan. Diagnosis pasti pe-nyakit tifus adalah dengan peme-riksaan kultur darah, bukan de-ngan pemeriksaan Widal. Penulis telah mengadakan pengamatan terhadap 24 penderita DBD yang disertai pemeriksaan Widal yang positif. Ternyata dalam evaluasi lebih lanjut, didapatkan hasil kultur darah kuman tifus negatif. Artinya, meskipun hasil Widal positif penyebabnya bukanlah penyakit tifus.

Beda Gejala DBD & Campak

Manifestasi yang tidak biasa pada penderita DBD adalah timbul rash atau bercak kemerahan yang mirip dengan penyakit campak. Hal ini sering terjadi

pada penderita yang sebelumnya sering mengalami riwayat hipersensitif atau alergi pada kulit. Pada penyakit campak, bercak merah timbul biasanya pada demam hari ke-3 sampai 5, kemudian akan berkurang pada minggu kedua dan menimbulkan bekas terkelupas dan bercak kehitaman.

Penyakit campak harus diawali dengan keluhan pilek dan batuk mulai demam hari pertama. Sedangkan pada penderita DBD, biasanya bercak ini timbul saat hari ke-2 sampai 3. Pada hari ke-4 dan 5 bercak menghilang tanpa diikuti proses terkelupas dan bercak kehitaman pada kulit.

Beda Gejala DBD dan ISPA

Pada awal perjalanan penyakit, DBD juga sangat sulit dibedakan dengan infeksi saluran napas akut (ISPA) seperti flu, infeksi tenggorok atau infeksi lainnya yang disebabkan virus. Gejala batuk, pilek, dan demamnya hampir sama. Mungkin yang sedikit dapat menjadi perhatian adalah penyakit flu biasanya diawali dengan batuk dan pilek pada saat demam hari pertama, dan akan menghilang secara bertahap setelah 7-14 hari. Sedangkan pada penyakit DBD, biasanya timbul batuk dan pilek saat demam hari ke-3 sampai 5, lalu setelah hari ke-6 batuk drastis menghilang. Penderita DBD yang mengalami keluhan batuk atau pilek, biasanya sebe-lumnya mempunyai riwayat hipersensitif pada saluran napas atas yang sering mengalami pilek, batuk berulang, batuk lama, atau asma.

Berjaga-jaga

Hasil pemeriksaan laboratorium tertentu bukan satu-satunya konfirmasi diagnosis. Karenanya, harus diikuti dengan ketajaman pengamatan klinis dan interpretasi yang benar. Penanganan ideal suatu penyakit juga bukan sekadar “mengobati hasil laboratorium” tetapi memberikan terapi yang benar berdasarkan tanda dan gejala penyakit yang ada pada penderita.

Memang benar, bukan berarti setiap demam harus dicurigai sebagai gejala DBD. Namun dengan meningkatnya kasus penyakit DBD seperti sekarang ini, sikap berjaga-jaga sangat dibutuhkan. Artinya, meskipun tanda dan gejala DBD disertai penetapan diagnosis penyakit lain, maka sebaiknya fokus utama diletakkan pada penatalaksanaan kecurigaan penyakit DBD.

Dengan kata lain, dalam keadaan tertentu mungkin lebih baik terjadi “overdiagnosis” DBD dibandingkan “underdiagnosis”. Alasannya, keterlambatan penanganan penyakit DBD lebih fatal dibandingkan penyakit lainnya yang memiliki gejala sama.

Dr. Widodo Judarwanto Sp.A, dari Allergy Behaviour Clinic & Picky Eaters Clinic (Klinik Kesulitan Makan), Jakarta

Senin, 21 Desember 2009 | 10:01 WIB

Written by informasisehat

21/12/2009 at 5:59 pm

leave a comment »

Tahukah Anda Gejala DBD?

nyamuk20belang_dbd1

DBD ancaman bagi penduduk tropis

KOMPAS.com – Setiap kali pergantian musim tiba, fenomena penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang tergolong mematikan menjadi ancaman penduduk negara tropis seperti Indonesia.

DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegipty atau Aedes albopictus berkelamin betina. Nyamuk berkaki belang-belang putih ini menggigit manusia di siang hari. Virus dengue terdiri dari empat jenis (strain), yakni dengue tipe 1,2,3, dan 4. Namun tipe yang dominan di Indonesia adalah tipe 3.

Penyakit DBD sampai sekarang memang tidak terduga. Secara umum penyakit ini memiliki ciri seperti panas tinggi, pusing, bahkan muntah darah. Namun sayangnya, gejala yang sama sering ditemukan pada penyakit lain. Akibatnya, sampai sekarang sering terjadi salah diagnosis. Oleh sebab itu, Anda harus lebih waspada dan mengenali gejala lainnya.

GEJALA:
– Demam tinggi mendadak
– Sakit kepala berat, terutama di bagian dahi
– Nyeri pada tubuh dan sendi
– Mual atau muntah
– Muka kemerahan
– Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukosit dan trombosit turun (kurang dari 100 ribu) dan terjadi peningkatan hematokrit (kekentalan darah).

PENANGANAN

– Monitor suhu tubuh penderita setiap hari
– Bawa penderita kembali ke dokter bila demam berlangsung 3 hari
– Istirahat dan asupan cairan yang cukup merupakan dua hal yang sangat penting pada pasien infeksi virus dengue.

– Bila penderita makin lemas, muntah, sulit makan atau minum, perlu dilakukan pemberian cairan infus oleh dokter.
– Bila hasil laboratorium menunjukkan ada tanda-tanda penurunan trombosit atau peningkatan  hematokrit, penderita harus dirawat di rumah sakit.
– Pasien diawasi jangan sampai terjadi syok yang ditandai dengan rasa lemas, mengantuk, dan pingsan, sementara kaki terasa dingin sekali.

Sabtu, 7 November 2009 | 10:36 WIB

 

Parasetamol, Lebih Aman Atasi DBD

paracetamol

Aman bagi penderita DBD

KOMPAS.com – Dalam memilih obat penurun demam anak yang dijual bebas, selain berkhasiat, sebaiknya orangtua memperhatikan ada tidaknya efek samping obat tersebut bagi penderita.

Untuk anak yang menderita demam dengue atau demam berdarah dengue (DBD), khususnya anak yang berusia kurang dari 12 tahun, Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan parasetamol sebagai salah satu pilihan obat untuk meredakan demam.  Parasetamol dinilai lebih aman untuk lambung dan tidak memiliki efek menghambat pembekuan darah.

Menurut dr.Alan Tumbelaka, Sp.A, konsultan dan Kepala Divisi Penyakit Infeksi Tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI-RSCM, parasetamol dapat digunakan untuk mengatasi gejala nyeri otot dan sendi, sakit kepala, serta demam pada anak.

Asam asetil salisilat maupun obat antiinflamasi non-steorid seperti ibuprofen mempunyai indikasi kontra pada demam dengue maupun DBD karena dapat menimbulkan risiko iritasi dan sakit lambung yang memperburuk penyakit.

“Meski jarang ditemui, namun penelitian menunjukkan adanya efek samping obat ibuprofen yang memperburuk penyakit DBD,” kata dokter Alan.

“Bila anak sudah positif kena DBD atau demam dengue, sebaiknya tidak diberi obat penurun demam jenis ibuprofen atau asam asetil salisilat,” tambahnya.

Dipaparkan oleh dokter Alan, terapi terbaik untuk pengobatan demam dengue atau DBD adalah istirahat cukup dan minum banyak cairan, seperti oralit, jus buah, susu, dan sebagainya.

“Segera ke rumah sakit bila anak menunjukkan gejala lemas, tidak nafsu makan, atau muntah, terutama pada fase kritis, yakni pada hari ketiga demam,” katanya.

Kamis, 5 November 2009 | 17:11 WIB

 

Written by informasisehat

09/11/2009 at 1:12 am

Konsumsi Air Kelapa Saat Demam Berdarah

leave a comment »


air kelapa bermanfaat untuk demam berdarah

air kelapa bermanfaat untuk demam berdarah

Minum air kelapa merupakan aktivitas yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat dalam berbagai suasana, mulai dari sekadar melepas dahaga, teman saat makan, sampai sebagai obat.

Bahkan tak sedikit ibu hamil yang percaya bahwa air kelapa mampu memberikan khasiat bagi janin yang sedang dikandungnya. Apalagi jika yang dikonsumsi adalah jenis kelapa hijau yang juga dipercaya memiliki banyak khasiat bagi kesehatan.

Kandungan air dalam satu buah kelapa adalah sekitar 400 – 465 cc. Kandungan nutrisi dari air kelapa terdiri dari vitamin C dan beberapa jenis vitamin B seperti niacin, asam pantotenat, biotin, riboflavin, asam folat, dan thiamin. Di samping itu juga air kelapa mengandung mineral, seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, dan zat besi.

Dalam dunia medis pun, air kelapa banyak digunakan sebagai cairan pengganti cairan tubuh. Contohnya, air kelapa pernah digunakan sebagai cairan pengganti infus bagi para prajurit ketika Perang Dunia II dan juga digunakan sebagai pengganti cairan dan nutrisi pada bayi-bayi yang menderita diare di Vietnam.

Khasiat air kelapa yang bersifat alami ini tentunya lebih baik dibandingkan minuman pengganti cairan lainnya yang mengandung bahan sintetik. Kandungan vitamin dan mineral dalam bahan sintetik 50-70% lebih rendah dibandingkan dengan produk alami, dan yang benar-benar dipakai tubuh hanya sekitar 15%, sisanya adalah sampah yang akan membebani tubuh bahkan kadang-kadang dapat menjadi racun. Hal ini menjadi alasan mengapa semakin banyak orang yang memilih bahan alami dibanding sintetik.

Air Kelapa dan DBD

Salah satu penyakit yang mengancam saat musim hujan tiba adalah demam berdarah dengue (DBD). DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk bergenus Aedes, yang menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan.

Peningkatan kasus DBD setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu tempat atau wadah berisi air, seperti bak mandi, kaleng bekas, dan tempat penampungan air lainnya.

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini bervariasi, mulai dari demam yang disertai ruam-ruam, sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri sendi dan otot, mual – muntah, bahkan sampai terjadi perdarahan fatal.

Banyaknya korban jiwa akibat DBD biasanya disebabkan oleh pendarahan dan syok hipovolemik, yaitu terjadinya kekurangan cairan pada pembuluh darah karena meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma.

Pengobatan pada penderita DBD salah satunya adalah penggantian cairan tubuh dan pemberian minum lebih dari 2 liter dalam 24 jam. Hal ini dilakukan untuk menghindarinya terjadinya syok hipovolemik yang berakibat kematian. Cairan pun bermanfaat untuk membantu menurunkan suhu tubuh (termoregulasi), yang cenderung meningkat pada penderita DBD.

Karena kebutuhan akan cairan tubuh sangat penting bagi penderita DBD, maka langkah terbaik adalah memberikan minuman pengganti cairan tubuh yang alami seperti sari buah atau jus. Salah satu minuman alami yang bermanfaat untuk proses rehidrasi tubuh adalah air kelapa, selain rasanya yang enak juga kandungan nutrisi dan ion didalamnya bermanfaat untuk rehidrasi.

Saat ini, telah hadir produk air kelapa alami yang dikemas dalam kemasan praktis sehingga mempermudah Anda untuk mendapatkan dan mengonsumsinya. Produk air kelapa alami ini pun hadir tanpa bahan pengawet karena melewati proses UHT, yang membunuh semua kuman dengan suhu tinggi dalam waktu singkat sehingga tidak mengganggu kandungan nutrisi di dalamnya.

Minuman air kelapa alami ini bisa menjadi alternatif pengganti cairan tubuh saat DBD menyerang, dibarengi dengan konsumsi air putih.

http://www.ahlinyalambung.com

Written by informasisehat

07/10/2009 at 4:38 am