HIDUP SEHAT

hidup sehat adalah pilihan

Archive for the ‘SICK BUILDING SYNDROME’ Category

Tetap Sehat Dan Produktif Di Kantor

leave a comment »

Tetap Sehat Dan Produktif Di Kantor

Written by fanny yuliana

Bukan cuma sick building syndrome yang sering menimpa para pekerja kantor di gedung-gedung yang tertutup rapat. Resiko-resiko lain pun mengintip kesehatan mereka.

Sakit punggung, encok, mata pedih, pergelangan tangan ngilu, kesemutan, otot kaku dan sebagainya. Selain gara-gara kebiasaan “salah” yang dilakukan berulang-ulang, kemungkinan juga sarana pendukung pekerjaan atau perangkat kerja yang kurang tepat.

Meski bukan tipe pemanja yang mudah mengeluh, sekali-sekali Anda tentu pernah merasakan tak enak badan. Sakit punggung, mata pedih dan terus menerus mengeluarkan air mata. Merasakan seluruh otot dan urat badan kaku dan mengencang, sakit atau merasa tidak nyaman. Tangan, pergelangan tangan, jari, lengan dan siku terasa sakit seperti terbakar. Adakalanya tangan perih, dingin, ataupun kebas (kesemutan), dan kehilangan kekuatan dan koordinasi. Ketika terjaga tengah malam, badan terasa sakit semua disertai pegal-pegal. Ingin rasanya segera memijat tangan, pergelangan dan lengan.Kalau muncul gejala sakit seperti itu, jangan anggap remeh. Coba dengarkan keluhan punggung Anda, juga keluhan bagian tubuh lainnya. Siapa tahu punggung Anda memang sedang mengalami masalah? Atau barangkali Anda terserang Repetitive Strain Injury (RSI).

Biang keladinya, karena gerakan fisik yang “salah” berulang-ulang dan terus menerus dalam jangka panjang. Misalnya, selama bekerja di kantor. Akibatnya terjadi kerusakan urat, otot, saraf dan jaringan lunak lain.

Apa yang salah?

Cukup beragam pekerjaan yang memungkinkan terjadi RSI. Salah satunya semakin meningkatnya penggunaan sarana komputer. Kegiatan yang selalu melibatkan keyboard dan mouse ini dapat menimbulkan cedera urat tangan, lengan dan bahu. Bisa dibayangkan, berapa ribu kali jari-jari tangan mengulang gerakan memukul tuts keyboard ketika sedang mengetik, misalnya. Apalagi tangan sambil mencengkeram dan menggeser-geser mouse. Lambat laun, tanpa disadari bisa terjadi akumulasi kerusakan pada badan secara keseluruhan.

Sesungguhnya semua risiko yang dialami para pekerja kantoran bukan semata-mata faktor kecerobohan – misal kurang memperhatikan posisi duduk yang benar. Namun bisa jadi disebabkan sarana kerja (meja kursi, komputer, lampu penerang ruangan) kurang mendukung kenyamanan dan kesehatan. Sebutlah, sakit pinggang jangan-jangan karena tempat duduknya tidak memberi kenyamanan tulang belakang. Atau, penataan perangkat komputer yang kurang tepat.

Apalagi seharian (setidaknya delapan jam sehari – itu kalau tidak lembur) hanya duduk, sementara indera penglihatan terus melototi layar komputer dan jari-jari tangan sibuk memencet tuts keyboard. Karenanya sarana penunjang kerja perlu mendapat perhatian, tidak saja dari segi keselamatan tapi juga kenyamanan dan kesehatan.

Perlu dicatat, saat mengetik ambil posisi duduk tegak, tidak bersikap loyo atau lesu. Untuk urusan ini, sekarang sudah banyak dipasarkan model kursi ergonomis yang gampang disetel sandarannya sehingga menawarkan kenyamanan. Sikap duduk yang benar dan model kursi yang tepat membantu mengatasi masalah ini. Soalnya keluhan pada punggung umumnya berkaitan dengan otot tulang belakang. Yang artinya ada faktor ergonomi berperan dalam sindrom itu.

Postur tubuh yang benar saat menghadap komputer

Duduk bisa mengurangi rasa penat, memang benar. Tetapi kalau dilakukan dalam jangka waktu lama dan posisi statis, justru bisa menimbulkan gangguan pada leher, bahu, punggung dan lengan. Alias RSI itu tadi.

Kenapa bisa begitu? Karena pada sikap kerja statis terjadi kontraksi otot yang kuat dan lama tanpa cukup kesempatan pemulihan, dan aliran darah ke otot terhambat. Akibatnya, timbul rasa lelah dan nyeri pada otot tubuh. Yang paling sering dialami adalah rasa sakit, pegal pada bagian belakang tubuh hingga leher, yang disebut juga varicose veins. Oleh karena itu, perlu menerapkan duduk dinamis, yaitu sesering mungkin mengubah posisi pada saat duduk.

Perlu selalu rileks

Gejala RSI atau juga disebut Cumulative Trauma Disorder bisa terjadi gara-gara posisi tubuh kurang rileks. Ada tekanan terhadap urat dan saraf tangan, pergelangan tangan, lengan dan pundak, serta leher. Kurang selingan istirahat ketika mengetik misalnya, apalagi terlalu terforsir dijamin menimbulkan risiko kesehatan.

Upaya pencegahannya, pertama-tama posisi tubuh saat duduk dan teknik mengetik mesti benar. Begitu pula penataan (posisi) sarana kerja harus benar. Tak ada salahnya memang memilih sarana bekerja yang enak dipakai (ergonomis). Namun, tetap saja kebiasaan bekerja secara baik dan benar lebih penting sebagai pencegahan ketimbang harus menyediakan perlengkapan yang ergonomis. Baik sarana duduk (kursi), keyboard atau penyangga pergelangan tangan.

Untuk posisi monitor, disarankan lebih rendah dan agak jauh dari posisi mata. Kursi dan keyboard diatur sedemikian rupa hingga posisi paha dan lengan sejajar (boleh sedikit menggantung), pergelangan tangan lurus dan sejajar (tidak menekuk ke bawah atau terlalu jauh ke belakang). Bila memungkinkan, posisi keyboard 2,5 – 5 cm di atas paha. Jika posisi meja terlalu tinggi, sebaiknya keyboard ditaruh di atas pangkuan.

Bagaimana tentang pengaruh monitor pada mata?

Pengaruh monitor (video display unit/VDU) terhadap kesehatan mata, masih menjadi perdebatan. Pemakai VDU pada umumnya mengeluhkan tekanan pada mata, nyeri otot leher, sakit pundak dan pinggang. Tapi berdasarkan penelitian di Inggris, tidak ada kerusakan permanen pada mata gara-gara VDU, kecuali nyeri sementara pada mata. Keluhan itu pun masih ditentukan oleh tipe pekerjaannya, monoton atau bervariasi, nonstop atau diselingi istirahat. Keluhan pun akan berkurang bila posisi duduk dan pencahayaan diperhatikan. Jumlah radiasi gelombang yang diterima pengguna VDU selama 8 jam/hari sebenarnya hanya 0,5% dari jumlah radiasi yang diterima dari sumber lain. Kalau masih merasa belum aman, tak ada salahnya memasang kaca penahan radiasi sebagai perisai tambahan.

Selain harus duduk pada posisi tegak, jangan pula meregang ke depan untuk mencapai keyboard atau membaca tulisan di layar monitor. Keadaan demikian justru akan menciptakan masalah. Begitu pun posisi tubuh “sempurna” dapat bermasalah bila dilakukan secara kaku dan terus menerus dalam jangka panjang. Karenanya disarankan untuk rileks, juga sering-seringlah bergerak dan mengubah posisi (duduk dinamis). Ini bukan cuma berlaku untuk tangan dan lengan, tapi juga  pundak, punggung dan leher.

Begitu pula saat mengetik, pergelangan tangan hendaknya tidak ditekuk ke atas, ke bawah, atau ke samping. Sedikit memutar-mutar tangan bisa sebagai gantinya istirahat pergelangan tangan. Begitu ada kesempatan berhenti mengetik sejenak, istirahatkan tangan di atas pangkuan atau di sisi samping Anda ketimbang ditumpangkan di atas keyboard.

Begitu pun ukuran font (huruf) sebaiknya tidak terlalu kecil supaya mudah terbaca. Sehingga tak perlu membungkukkan badan ke depan monitor setiap kali membaca teks. Juga melunakkan tekanan pada saraf dan pembuluh darah di leher dan pundak. Selain ukuran teks dokumen jelas, juga pergunakan warna yang teduh (abu-abu) dan mudah terbaca oleh mata.Lagi-lagi perbanyak istirahat dan rileks.

Pertimbangkan posisi lampu dan AC

Sesuai dengan namanya, fungsi lampu adalah untuk menerangi ruangan. Selain juga memberikan nuansa dekoratif. Untuk fungsi dekoratif, lantas perlu memilih lampu yang selaras dengan desain interior. Namun sebagai sarana penerang, lampu tentu saja harus terang. Apa pun bentuknya, pilihlah lampu yang cahayanya cukup terang untuk menerangi huruf-huruf tulisan. Selain itu juga tidak bikin mata silau dan pedih. Untuk ruang kerja, lazimnya digunakan lampu neon. Selain cahayanya terang, juga bisa mengirit anggaran. Tapi, omong-omong

tentang cahaya, pernah ada laporan (tahun 1996), makin terang cahaya lampu ruangan, makin sering karyawan mengeluh lesu, lelah dan sakit kepala. Untuk mengurangi ketajaman sinar yang memedihkan mata, perlu lampu tambahan. Manfaat lainnya, cahaya lampu utama bisa tersebar. Sementara penempatan lampu tak langsung yang tidak terlalu terang akan mengurangi ketegangan mata.

Selain kriteria terang, tata letak lampu mesti diperhatikan. Lampu penerang sebuah gedung perkantoran biasanya sudah terpasang permanen. Kalau demikian adanya, yang mesti dilakukan ya mengatur posisi meja kerja.

Posisi meja kerja mestinya tidak berada persis di bawah titik lampu. Kenapa? Karena sinar lampu dari atas langit-langit tepat di atas meja kerja menimbulkan bayangan pada halaman buku, koran atau majalah yang tengah dibaca. Jadi posisi lampu demikian tidak tepat untuk membaca. Posisi lampu hendaknya di belakang agak ke samping, untuk menghindari timbul bayangan pada halaman buku yang dibaca.

Lalu, bagaimana dengan posisi AC?

Tata letak AC dalam ruang kantor umumnya sudah menetap. Kalau penghuni kantor ingin memilih posisi meja kerja yang tak langsung tersentor angin AC, ya mesti mengatur diri. Apalagi bagi yang tak tahan AC, salah-salah justru bisa bikin badan meriang.

Desain interior dan tata ruang boleh menjadi urusan perancang interior. Tapi soal tata letak meja kerja ya mesti menjadi urusan diri sendiri, bagaimana baiknya supaya tetap sehat dan produktif.

Diambil dari : http://www.jawaban.com

Written by informasisehat

07/05/2009 at 9:49 pm

Waspada Sick Building Syndrome

leave a comment »


Jurnal Bogor

Bogor – Medical Marketing Manager Bayer Healthcare Consumer Care dr. Handy Purnama mengatakan, radikal bebas memang lebih banyak bersumber dari lingkungan seperti: polusi dari kendaraan bermotor, industri, asap rokok, mesin fotocopy, AC, dan makanan yang tidak sehat.

”Akumulasi radikal bebas tersebut tanpa kita sadari dapat menimbulkan berbagai penyakit. Radikal bebas ini dapat menyebabkan penyakit jangka panjang dan jangka pendek. Jangka panjang berupa penyakit kronis seperti kanker, jantung koroner sedangkan jangka pendek menyebabkan kerusakan sel-sel daya tahan tubuh sehingga kita mudah terserang penyakit,“ kata Handy dalam keterangan tertulisnya kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Dikatakan Handy, sehubungan dengan hal tersebut, PT Bayer Indonesia divisi Consumer Care menggandeng FKM-UI/IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Suplementasi Antioksidan terhadap Sick Building Syndrome (SBS).

Penelitian yang dilakukan terhadap 350 orang karyawan dari 18 perusahaan di wilayah DKI Jakarta, dilakukan dalam kurun waktu 6 bulan, mulai Juli-Desember 2008.
Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan unit analisis pegawai perusahaan berusia 30-50 tahun. Secara acak dipilih 11 perusahaan yang respondennya diberikan suplemen anti-oksidan untuk dikonsumsi setiap hari selama tiga bulan. Sedangkan 7 perusahaan lainnya tanpa diberikan suplemen anti-oksidan.

Berdasarkan hasil penelitian, lanjut Handy, 50 persen orang yang bekerja di dalam gedung perkantoran mengalami SBS, di mana perbedaan frekuensi kejadian gejala atau keluhan yang terjadi antara responden yang mengkonsumsi suplemen anti-oksidan (Redoxon Fortimun) setiap hari selama tiga bulan dan responden tanpa suplemen anti-oksidan adalah sebesar 49 persen untuk sakit kepala, 45 persen untuk mata perih, 52 persen untuk hidung tersumbat, 27 persen untuk radang tenggorokan, dan 41 persen untuk lelah/pegal pada tubuh.

Hasil-hasil tersebut di atas, imbuh Handy, menunjukkan bahwa berbagai gangguan atau keluhan SBS yang terjadi pada para karyawan perusahaan di DKI Jakarta frekuensi kejadiannya dapat diturunkan secara bermakna setelah mengkonsumsi suplemen anti-oksidan (Redoxon Fortimun) setiap hari selama tiga bulan.
Hasil tersebut dikuatkan dr. Budi Haryanto, PhD, Msc dari IAKMI/FKM-UI yang mengatakan, penurunan radikal bebas tersebut sangat signifikan.

“Dengan asupan suplementasi antioksidan (Redoxon Fortimun) yang teratur dan rutin selama 3 bulan dapat menurunkan frekuensi SBS hingga 65 persen, otomatis produktifitas kerja juga bisa meningkat,” papar Budi.

Lebih lanjut Budi menuturkan, risiko menderita gangguan SBS terkait erat dengan faktor lingkungan yang menjadi media pencemar fisik, kimia, biologis, dan radiasi di mana kita kontak relatif lama terjadi. “Terutama di tempat kerja, faktor risiko lingkungan tersebut akan kontak dengan karyawan paling tidak 8 jam sehari, sehingga peluang resiko untuk terpajan dan mengalami SBS akan semakin besar,” jelasnya.

Manusia biasa, tambah Budi, menghabiskan 90 persen waktunya dalam lingkungan konstruksi, baik di dalam bangunan kantor ataupun rumah.
Tanpa disadari, udara di dalam ruang tercemar oleh radikal bebas (bahan kimiawi) yang berasal dari dalam maupun luar ruangan.

“Polutan yang bisa mencemari ruangan, misalnya asap rokok, ozone yg berasal dari mesin fotocopy dan printer, volatile organics compounds yang berasal dari karpet, perabot, cat, atau bahan pembersih, debu, karbon monoksida, formaldehit, dan masih banyak lagi,” urainya.
Budi juga mengatakan, keluhan utama yang yang ditimbulkan dari pencemar udara dalam ruangan itu bisa berupa iritasi (mata berair, bersin, hidung tersumbat, gatal tenggorokan), sesak napas, sakit kepala, kelelahan, gejala seperti flu, dan bronkitis (e.g Legionella).

Keluhan yang paling sering dialami adalah sakit kepala, iritasi mata, badan cepat letih, perut terasa kembung, hidung berair, tenggorokan gatal, kesulitan dalam berkonsentrasi, kulit terasa kering serta batuk kering yang tak kunjung sembuh.
“Sepintas kondisi ini dianggap sebagai keluhan akibat virus influensa belaka. Padahal, keluhan tersebut juga merupakan indikator dari SBS,” terang Budi .

Rudi D. Sukmana

Written by informasisehat

07/05/2009 at 9:44 pm

Penyakit Bisa Bersumber dari Kantor

with one comment

Jakarta – Dalam kehidupan sehari-hari, sulit bagi kita untuk menghindari bahaya radikal bebas. Radikal bebas dapat bersumber dari dalam tubuh, seperti proses alami respirasi dan fungsi metabolisme yang buruk dalam tubuh manusia. Meskipun demikian, radikal bebas lebih banyak bersumber dari lingkungan seperti polusi dari kendaraan bermotor, industri, asap rokok, mesin fotokopi, AC, serta makanan tidak sehat.

“Risiko menderita gangguan Sick Building Syndrome (SBS) terkait erat dengan faktor lingkungan yang menjadi media pencemar fisik, kimia dan biologis dan radiasi yang terjadi karena kontak yang cukup lama. Terutama di tempat kerja, faktor risiko lingkungan tersebut akan kontak dengan sesama karyawan paling tidak delapan jam sehari, sehingga peluang risiko untuk terpajan dan mengalami SBS akan semakin besar,” tutur Dr Budi Haryanto, PhD, Msc, anggota staf Ikatan Ahli Kesehatan
Masyarakat Indonesia/Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (IAKMI/FKM-UI), saat memberikan penjelasan seputar SBS di Jakarta, Rabu (18/2).

SBS adalah situasi di mana penghuni gedung (bangunan) mengeluhkan masalah kesehatan dan kenyamanan yang akut, dan timbul berkaitan dengan waktu yang dihabiskan dalam suatu bangunan, namun gejalanya tidak spesifik dan penyebabnya tidak dapat diidentifikasi.
Untuk itu, IAKMI/FKM-UI melakukan penelitian terhadap 350 karyawan dari 18 perusahaan di wilayah DKI Jakarta selama Juli-Desember 2008. Secara acak dipilih sebelas perusahaan yang respondennya diberikan suplemen antioksidan untuk dikonsumsi setiap hari selama tiga bulan, sedangkan tujuh perusahaan lainnya tidak diberikan suplemen antioksidan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, 50 persen orang yang bekerja di dalam gedung perkantoran mengalami SBS, di mana perbedaan frekuensi kejadian gejala atau keluhan yang terjadi antara responden yang mengonsumsi suplemen antioksidan setiap hari selama tiga bulan dengan responden tanpa suplemen antioksidan adalah sebesar 49 persen untuk penderita sakit kepala, 45 persen mata perih, 27 persen radang tenggorokan, serta 41 persen mengalami lelah/pegal pada tubuh.

Sementara itu berdasarkan riset yang dilakukan Institut Nasional Kesehatan dan Keselamatan Kerja Amerika Serikat tahun 1997, sebanyak 52 persen penyakit pernapasan yang terkait dengan SBS bersumber dari kurangnya ventilasi di dalam gedung serta kinerja penyejuk udara (AC) yang buruk. Selain itu, ada sumber radikal bebas lain seperti mesin fotokopi, printer, mesin faksimile, pengharum ruangan, larutan pembersih, atau bahan kain pelapis dinding.

“Akumulasi radikal bebas tersebut tanpa kita sadari dapat menimbulkan berbagai penyakit. Radikal bebas ini dapat menyebabkan penyakit jangka panjang dan jangka pendek. Jangka panjang berupa penyakit kronis seperti kanker, jantung koroner. Sementara pada jangka pendek menyebabkan kerusakan sel-sel daya tahan tubuh sehingga tubuh mudah terserang penyakit,” ungkap dr Handy Purnomo, Medikal Marketing Manager Bayer Healthcare Consumer Care.

Asupan makanan dengan kandungan gizi harian terkait dengan antioksidan pada rata-rata orang dewasa di Indonesia adalah 62 persen untuk vitamin C dan hanya 35,5 persen untuk Vitamin E (angka kecukupan gizi, Widya Karya Pangan dan Gizi tahun 2004). Hal ini menunjukkan rendahnya konsumsi makanan harian yang mengandung unsur-unsur antioksidan bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. (heru guntoro)

http://www.sinarharapan.co.id

Written by informasisehat

07/05/2009 at 9:42 pm

50 Persen Pekerja Kantoran Menderita Sick Building Syndrome

leave a comment »

Selama ini banyak pemberitaan menyebutkan bahwa radikal bebas berasal dari polusi udara jalanan, baik yang ditimbulkan oleh pabrik maupun kendaraan bermotor. Kenyataannya, radikal bebas juga mengancam pekerja kantoran. Terutama pekerja aktif yang menghabiskan sebagian besar waktu di dalam ruangan ber-AC. Udara di lingkungan kerja belum tentu bersih dari radikal bebas yang dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh.

“Akumulasi radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh manusia tanpa disadari dapat menimbulkan berbagai penyakit, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Karena itu, penting untuk menjaga kesehatan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan olahraga untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap radikal bebas,” kata dr Handy Purnama, Medical Marketing Manager Bayer Healthcare Consumer Care, dalam media edukasi tentang kekebalan tubuh, di Jakarta, belum lama ini.

Ia memaparkan fakta bahwa sekitar 50 persen pekerja kantoran menderita sick building syndrome (SBS) akibat sering terpapar radikal bebas. Gangguan kesehatan yang timbul antara lain pusing, diare, dan iritasi mata.

“Gangguan tersebut datang dari alat kantor yang biasa digunakan, seperti mesin fotokopi, air conditioner, dan kertas. Semuanya berpengaruh pada produktivitas tubuh manusia,” ujarnya.

Dijelaskan, radikal bebas bisa diterjemahkan menjadi sebuah senyawa reaktif yang berasal dari dalam tubuh sebagai hasil metabolisme atau akibat terpapar dari lingkungan luar. Senyawa ini memiliki ekstra-energi yang banyak sehingga cenderung tidak stabil. Karena elektronnya tidak berpasangan, dia akan terus-menerus mencari pasangan.

“Saat berada di dalam tubuh dan beraksi pada sel-sel, maka hanya ada dua kemungkinan. Sel tersebut mati atau berubah karakter menjadi sesuatu yang biasa disebut kanker. Jadi, radikal bebas ini saya analogikan sebagai janda kembang cantik yang merusak rumah tangga orang,” kata dr Handy Purnama.

Radikal bebas ini bisa saja berasal dari radiasi sinar ultraviolet, metabolisme dalam tubuh, radiasi ion, asap rokok, asap kendaraan bermotor, dan udara yang tidak sehat. “Bahkan, WHO sudah mencatat bahwa setiap tahun ada tiga juta orang di dunia ini yang meninggal karena polusi udara,” ujar Handy. Bahan inilah juga yang patut bertanggung jawab atas timbulnya penyakit lever, jantung koroner, katarak, penyakit hati, dan dicurigai berpengaruh pada proses penuaan dini.

Ditambahkan, saat berada dalam suatu ruangan tertutup (tanpa jendela dan hanya mengandalkan AC), radikal bebas ini ikut terbawa oleh orang-orang yang telah terpapar sebelumnya ketika beraktivitas di luar ruangan. Ketika orang tersebut menyibakkan jaketnya yang telah tertempel polusi-polusi kendaraan bermotor atau saat dia bersin, radikal bebas itu akan terus berputar dalam udara yang bakal kita hirup. Kesehatan pun akan cenderung terganggu ketika berlama-lama berada dalam sebuah ruangan.

Sementara itu, Dr Budi Haryono, Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), memaparkan hasil penelitiannya selama enam bulan, Juli-Desember 2008, terhadap 350 karyawan dari 18 perusahaan. Hasilnya, 50 persen orang yang bekerja dalam gedung perkantoran cenderung mengalami SBS. Keluhannya berupa sakit kepala, mudah lelah, gejala seperti flu, sesak napas, mata berair, sering bersin, hidung tersumbat, dan tenggorokan gatal. “Sebenarnya ini semua berawal dari pernapasan dan kualitas udara,” kata Budi.

Budi menjelaskan, setiap tiga detik, manusia pasti akan menghirup udara untuk bernapas. Sekali tarikan napas, sebanyak 500 mililiter udara terhirup. Selama satu menit kita bernapas sekitar 20 kali. Bisa dibayangkan akibatnya jika udara yang masuk ke dalam tubuh sudah terpolusi. Udara yang tidak sehat dengan partikel-partikel polusi sebesar 10 mikron bisa mengakibatkan berbagai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Tetapi, bagi partikel polusi yang lebih kecil (2,5 mikron), bakal masuk ke paru-paru dan menjadi penyebab penyakit asma.

Udara yang tidak sehat itu terjadi karena adanya kontaminasi dengan sumber-sumber polutan seperti asap rokok, ozon yang berasal dari mesin fotokopi dan printer, volatile organics compounds (sebuah bahan kimia organik berbentuk gas) yang berasal dari karpet, perabotan cat, bahan pembersih, dan dari debu atau karbon yang menempel.

“Bayangkan saja, jika delapan jam berada di ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang kurang baik, udara kotor itu akan berputar terus-menerus dan menjadi sumber oksigen utama yang kita hirup. Bahkan, jika ada orang bersin, bakteri-bakteri yang dia keluarkan bisa berputar saja di ruangan tertutup itu,” kata dr Budi.

Faktor lain yang menyebabkan SBS, menurut Budi, adanya partikel ozon dan karbon yang terbentuk dari alat-alat elektronik seperti printer atau alat fotokopi. “Alat elektronik itu banyak menggunakan sinar dan energi panas sehingga terbentuknya ozon dan karbon menjadi lebih banyak,” ujarnya.

Bahan-bahan ini bisa mengganggu proses pernapasan normal, menyebabkan iritasi mata, untuk kadar 0,3 ppm terjadi iritasi hidung dan tenggorokan, kadar 1,0 sampai 3,0 ppm selama dua jam pada orang sensitif bisa mengakibatkan pusing dan kehilangan koordinasi, lalu pada kebanyakan orang yang terpapar pada kadar 9,0 ppm akan mengakibatkan edema pulmonari.

Menurut Budi, perhatikan pula debu-debu yang menempel pada barang-barang atau kertas-kertas yang tidak tersentuh di kolong-kolong meja kerja. Selain itu debu juga banyak beredar karena saluran udara atau AC yang jarang dibersihkan. Debu-debu ini juga membawa partikel-partikel yang bisa mengganggu kesehatan.

Lalu bagaimana solusi untuk sehat? Budi mengatakan, jika memungkinkan, buka pintu atau jendela di pagi hari sebelum polusi udara di luar tinggi untuk memberi udara segar masuk. Minimalkan penggunaan pengharum ruangan atau larutan pencuci karpet yang baunya cukup tajam.

Selain itu, mintalah pada manajemen gedung untuk meningkatkan perawatan gedung sehingga karpet, perabot, serta meja dan kursi di kantor tidak terlalu berdebu. Hindari pula menyalakan AC secara nonstop dan penyemprotan pewangi ruangan secara berlebihan.

“Sesekali, istirahatkan AC agar kuman tidak keenakan berkembang biak di tempat lembap ini. Mintalah kepada pengurus gedung agar membuka jendela lebar-lebar beberapa menit sebelum AC dinyalakan. Biarkan sinar matahari masuk ke dalam ruangan karena panasnya akan membunuh sebagian besar kuman,” ujarnya.

Penting pula untuk memajang tanaman hias di sekitar ruangan serta meja kerja. Sebab, tanaman hias dalam ruangan terbukti mampu menguraikan udara tercemar dalam gedung. Tanaman yang bisa dipilih di antaranya bonsai beringin (Ficus menyamina), palem-paleman (Rhapis), jenis-jenis kaktus kecil (cactus), atau tanaman lidah mertua (Sanseviera). (Tri Wahyuni)

sumber: http://www.suara karya online.com

Written by informasisehat

07/05/2009 at 9:41 pm

Kenali ‘Sick Building Syndrome”

leave a comment »

Apakah yang dimaksud dengan Sick Building Syndrome (SBS)? SBS merupakan keluhan dan kumpulan permasalahan kesehatan yang timbul berkaitan dengan waktu yang dihabiskan dalam suatu bangunan dan berhubungan dengan kualitas udara dalam lingkungan.

Gejala yang ditimbulkan tidak spesifik, seperti sakit kepala, iritasi mata, badan cepat letih, perut terasa kembung, hidung berair, tenggorokan gatal, kesulitan dalam berkonsentrasi, kulit terasa kering serta batuk kering yang tidak kunjung sembuh.

Penyebab dari SBS antara lain ; kualitas udara dalam ruangan tercemar oleh radikal bebas (bahan kimiawi) yang berasal dari dalam maupun luar ruangan. Contohnya tercemar oleh mikroba atau disebabkan karena ventilasi udara kurang baik. Penyebab lainnya adalah polutan yang bisa mencemari ruangan, misalnya asap rokok, ozon yang berasal dari mesin fotocopi dan printer, volatile organics compounds yang berasal dari karpet, perabotan cat, bahan pembersih, debu, carbon monoxide, formalde-hyde, dll.

“Akumulasi radikal bebas tersebut tanpa kita sadari dapat menimbulkan penyakit. Radikal bebas ini dapat menyebabkan penyakit jangka panjang dan jangka pendek. Jangka panjang berupa penyakit kronis seperti kanker & jantung koroner, sedangkan jangka pendek menyebabkan kerusakan sel-sel daya tahan tubuh sehingga kita mudah terserang penyakit” kata dr Handy Purnama, Medical Marketing Manager Bayer Healtcare Consumer Care.

Dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan oleh SBS adalah, berbagai gangguan salurang pernafasan, seperti ; pneumonia, paru-paru, jantung dan penyakit kronis lain terkait dengan pencemaran udara. Beberapa penyakit kronis lain adalah gagal ginjal, gangguan system reproduksi, system syaraf, kanker, penurunan usia harapan hidup, dan penyakit paru serta jantung.

“Resiko menderita gangguan SBS terkait erat dengan erat dengan factor lingkungan yang menjadi media pencemar fisik, kimia, biologis, dan radiasi dimana kita kontak relatif lama terjadi. Terutama di tempat kerja, factor resiko lingkungan tersebut akan kontak dengan karyawan paling tidak 8 jam sehari, sehingga peluang resiko untuk terpajan dan mengalami SBS akan semakin besar”, kata Dr. Budi Haryanto, PhD, Msc dari IAKMI/FKM-UI.

Paparan radikal bebas memang sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, dibutuhkan asupan antioksidan yang bisa menangkal radikal bebas berlebih didalam tubuh. Salah satu asupan antioksidan yang bisa anda pilih adalah suplemen nutrisi antioksidan yang diperkaya vitamin C, E, Zinc & Selenium.

(disadur dari Kompas, 18 Maret 2009)

Written by informasisehat

07/05/2009 at 9:39 pm

SICK BUILDING SYNDROME (SBS)

leave a comment »

Pada tahun 1976, 29 peserta American Legion Convention meninggal oleh penyakit yang akhirnya disebut Legionnaries Disease dan kemudian diketahui bahwa penyebabnya adalah Sick Building Syndrome (SBS). Dari survey juga diketahui 8.000 sd 18.000 kasus Sick Building Syndrome terjadi setiap tahunnya di Amerika Serikat.

Apa itu Sick Building Syndrome? Sick Building Syndrome (SBS)  atau yang disebut juga dengan Tight Building Syndrome atau Building Related Illness / Bulding Related Occupant Complaints Syndrome adalah Situasi dimana penghuni Gedung (Bangunan) mengeluhkan permasalahan kesehatan dan kenyamanan yg akut, yang timbul berkaitan dengan waktu yang dihabiskan dalam suatu bangunan, namun gejalanya tidak spesifik dan penyebabnya tidak dapat diidentifikasikan (EPA, 1991) dan juga merupakan kumpulan permasalahan kesehatan yang berhubungan dengan kualitas udara dalam lingkungan (Engelhart, 1999) atau juga dapat didefinisikan sebagai Keluhan yg tidak spesifik dari penghuni ruangan ber AC (Seifert B)

Manusia menghabiskan 90 % waktunya dalam lingkungan konstruksi, baik itu di dalam bangunan kantor ataupun rumah yg mungkin sekali kualitas udara dalam ruangnya tercemar oleh chemical yg berasal dari dalam maupun luar ruangan, tercemar oleh mikroba ataupun disebabkan karena ventilasi udara yg kurang baik.  Contoh polutan yang bisa mencemari ruangan misalnya asap rokok; ozone yg berasal dari mesin fotocopy & printer; volatile organics compounds yg berasal dari carpets, furniture, cat, cleaning agents dsb; debu, carbon monoxide, formaldehyde, dll.  Keluhan utama yang yang ditimbulkan dari pencemar udara dalam ruangan itu bisa berupa iritasi (mata berair, bersin, hidung tersumbat, gatal tenggorokan), sesak napas, sakit kepala, kelelahan, gejala seperti flu, dan bronkitis (e.g Legionella)

Pada tahun 1984, setelah menganalisa 300 kasus Sick Building Syndrome, NIOSH (National Institute for Occupational Safety & Health) menyimpulkan bahwa 48 % dari kasus SBS disebabkan oleh ventilasi yang kurang baik, 5 % disebabkan oleh kontaminasi bakteri, dan 16 %  nya disebabkan oleh office machines & products.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah Sick Building Syndrome? Kunci disini adalah pemeliharaan “In door Air Quality” dengan melakukan pemeliharaan terhadap HVAC System, dan pemeliharaan gedung secara berkala dan teratur agar bisa terbebas dari segala kontaminan.

Apakah Perusahaan anda sudah melaksanakan hal tersebut ?

Always remember DANGER never takes a vacation !!

Written by informasisehat

07/05/2009 at 9:37 pm