HIDUP SEHAT

hidup sehat adalah pilihan

Posts Tagged ‘pencegahan flu babi

Bagaimana Virus Flu Babi Pandemik Bisa Mematikan?

leave a comment »


Dua kelompok ilmuwan berhasil mengungkap bagaimana protein virus flu babi H1N1 terikat pada reseptor korbannya.

Ferret (Image from foreignpolicyblogs.com)

Saat ini penyakit flu babi (Influenza H1N1) telah dinyatakan sebagai pandemik (level 6) oleh WHO sejak tanggal 11 Juni 2009 yang lalu. Penyebarannya kini telah dilaporkan di lebih dari 70 negara (CDC, 7 Juli 2009). Bahkan di Indonesia pun penyakit ini sudah mulai bercokol, awalnya ‘dibawa’ oleh warna negara asing yang sedang berkunjung ke Indonesia, dan kini sudah ditemukan 28 kasus positif flu babi (Media Indonesia Online, 7 Juli 2009).

Kasus flu babi (H1N1) ini memang pada umumnya masih tergolong penyakit ’sedang’, tidak terlalu mematikan. Berdasarkan data WHO per tanggal 29 Juni 2009, terjadi 311 kematian dari 70.893 kasus positif flu babi atau sekitar 0.44% (dibanding dengan flu burung H5N1 yang mencapai 80%). Namun kini mulai dilaporkan adanya peningkatan ‘keganasan’ sang virus, tingkat kematian akibat virus H1N1 mulai meningkat dan semakin cepat yang nampaknya akibat aktifitas viral pneumonia. Dan kini dua kelompok ilmuwan telah menemukan titik terang mengapa virus ini semakin ganas, dan ini ada hubungannya dengan cara virus terikat dalam tubuh penderita.

Sesuai namanya, virus flu babi H1N1 ini berasal dari babi, sehingga ia terikat dengan baik pada molekul-molekul permukaan sel dalam sistem pernafasan mamalia lain, termasuk manusia. Tetapi ada sedikit perbedaan cara protein-protein flu terikat pada reseptor-reseptor ini.

Image from howtotakecareofferrets.com.

Dua tim terpisah — yang pertama dipimpin oleh Ron Fouchier dari Erasmus University di Rotterdam, Belanda, dan yang kedua oleh Terrence Tumpey dari Centres for Disease Control (CDC) Atlanta, Georgia, USA — keduanya melaporkan bahwa dibanding virus flu biasa, virus pandemik ini terikat lebih dalam pada sistem pernafasan ferret (sejenis musang), binatang yang lebih mirip dengan manusia ketika ia terserang flu.

Virus dari famili H1N1 yang sama dengan virus flu pandemik, telah bersirkulasi sebagai flu musiman biasa sejak 1977. Kedua kelompok peneliti tadi menemukan bahwa virus musiman terikat hampir secara eksklusif pada sel dalam hidung ferret. Sementara itu H1N1 pandemik terikat lebih dalam, di batang tenggorokan paru-paru, bronchi dan bronchiole. Virus pandemik juga bereplikasi lebih banyak, dan menyebabkan lebih banyak kerusakan, meskipun tidak ada ferret yang sakit parah.

Risiko Pneumonia

Setiap individu memiliki reaksi yang berbeda terhadap virus. Virus yang terikat lebih dalam di paru-paru dapat memicu potensi pneumonia yang fatal jika orang yang terinfeksi mengalami peradangan hebat sebagai respon terhadap virus tersebut. Ini dapat dilihat pada kasus pandemik H1N1 tahun 1918 yang menyebabkan viral pneumonia yang sangat cepat, bisa membunuh dalam hitungan jam. Menurut Fouchier, pengikatan dan replikasi virus H1N1 pandemik pada sistem pernafasan yang lebih dalam pada ferret cocok dengan viral pneumonia yang teramati pada manusia.

Kelompok peneliti dari USA juga menemukan bahwa pengikatan terjadi pula dalam usus, ini menjelaskan terjadinya rasa mual dan muntah-muntah pada beberapa kasus flu pandemik. Kedua tim menyimpulkan bahwa virus ini dapat beradaptasi lebih ‘baik’ pada manusia, sehingga menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Meskipun ini merupakan hasil penelitian ilmiah, namun kita berharap pandemik ini akan segera berakhir dan tidak akan jatuh lebih banyak korban lagi.

Referensi Jurnal: Science (DOI: 10.1126/science.1177238, DOI: 10.1126/science.1177127)

Sumber: NewScientist

Written by informasisehat

21/07/2009 at 5:15 pm

Flu Burung Flu Babi Lebih Mematikan

leave a comment »

Flu Burung Flu Babi Lebih Mematikan

BERITA – teknologi.infogue.com – Flu burung telah menelan lebih dari 60 persen korban, namun penyakit ini tidak mudah menular dari manusia ke manusia. Sementara flu babi, meski menginfeksi lebih sedikit korban, namun mudah sekali menyebar melalui bersin atau jabat tangan. Bagaimana jika kedua penyakit ini bersatu?

Hal ini memang belum pernah terjadi melainkan para ilmuwan menggambarkan skenario yang dikhawatirkan bisa terjadi sewaktu-waktu, demikian keterangan yang dikutip dari News Yahoo, Jumat (8/5/2009).

Andai kedua virus ini bertemu, kemungkinan akan terjadi di wilayah Asia yang menjadi daerah endemi terbesar flu burung. Pada saat flu burung bertemu dengan flu babi, keduanya akan menjadi penyakit baru yang lebih membahayakan dan berpotensi menyebar lebih luas di seluruh dunia.

Para ilmuwan tidak begitu yakin bagaimana terjadinya kemungkinan ini. Namun perlu diingat bahwa flu babi ini merupakan gabungan antara virus burung, manusia dan babi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hal ini menandakan bahwa jenis penyakit ini sangat mahir berkembang biak dan secara evolusioner mencaplok materi genetik dari virus flu lainnya.

“Virus luar biasa ini nampaknya memiliki kemampuan unik dalam menginfeksi gen lainnya,” kata ahli virus Dr. Robert Webster yang menjadi ketua tim penelitian virus flu babi di Carolina Utara pada 1998.

“Ketakutan terbesar saya adalah ketika virus H1N1 merambah ke titik pusat penyebaran virus H5N1 di Indonesia, Mesir dan China, barulah kita akan mendapatkan masalah. Oleh karenanya kita patut waspada dari sekarang,” kata Webster

Sementara itu, Dave Daigle, juru bicara dari Centers for Disease Control and Prevention Amerika tidak memberikan komentar spesifik mengenai skenario yang digambarkan Websters.

Menanggapi sikap Daigle, Webster mengingatkan bahwa dengan meremehkan virus flu babi akan menjadi kesalahan besar dalam dunia kesehatan.
Sumber: okezonecom

Written by informasisehat

21/07/2009 at 5:13 pm